Jumat, 31 Maret 2017

Alay Penyakit Sejuta Umat?


Konnichiwa  minna ^_^ ogenkidesuka? Eak... segitu aja belajarnya. Paling mending emang pakek bahasa jawa tercinta atau bahasa indonesia kita semua hehehe...
Kali ini aku mau ceritain soal salah satu anggota keluarga cemara versiku wkwkwk. Tayangan Keluarga Cemara di sekitaran akhir abad 20 dulu emang gak terganti ya. Meskipun abad telah berbeda, tapi Keluarga Cemara seperti menjadi paporit dan panutan banyak keluarga di Indonesia. Buktinya pas aku search di kolom pencarian instagram dengan kata kunci “Keluarga Cemara” yang muncul bukan lagi tayangan atau video tentang Keluarga Cemara “yang dulu” tapi telah bereinkarnasi menjadi Keluarga Cemara “masa kini” dengan banyak versi.
Udah cukupin deh ngomongin Keluarga Cemara-nya. Kali ini aku akan mengupas tuntas *baca dengan nada sesuai versi infotaiment*tentang cuplikan kehidupan adek aku. Kenapa bahas dia? Ya, karena pengen aja. Setiap kali melihat dia di masa ini, aku juga seperti melihat diriku sendiri di masa yang sama. Indah, bahagia, tanpa beban, belum punya malu *maafkan aku yang dulu*, ceria selalu dan yang pastinya belum kenal yang namanya skripsi !
Masa apa itu? Masa terindah untuk jatuh cinta. Masa terindah untuk melakukan hal malu-maluin tanpa rasa malu. Masa yang ketika sekarang kau ingat, barulah sekarang malunya minta ampun. Terus nyanyi pengen lumpuhin ingatan apalagi yang tentang mantan
Kau tahu kan anak seusia SMP? Banyak dibilang masa  itu masa emasnya anak ababil ya ‘kan? Alias “ABG Labil”? ya, kalian yang udah tahu dan paham betul dengan istilah ini berarti kita seumuran wkwkwk. Jadi, adekku ini sekarang lagi mengalami masa ke-ababil-annya yang benar-benar ia nikmati. Seperti apa gambaran adekku ketika mengalami masa ababil itu? Yah, wajar seperti ababil lain di seluruh tanah air. Dandan alay di anggap gaul. Tampil norak disebut kekinian. Melanggar peraturan sebuah kebanggan. Mungkin itu semboyan tertinggi bagi kaum ababil. Meskipun harus renang di sungai penuh eek sekalipun akan mereka lakukan asal tetap eksis dengan ke-alay-an yang mereka banggakan. Jadi detailnya seperti apa penampilan anak alay itu? Masa aku harus jelasin? Oke, aku jelasin. Penampilannya seperti kalian waktu dulu seumuran mereka juga ! Jelaskan? Apa? Kalian belum pernah mengalami masa alay waktu seumuran itu? Sungguh malang kalian, melebihi malangnya ditinggal mantan. Kenapa malang? Ya karena masa ababil itu sekali seumur hidup dan kalo kita bisa ngadepinnya dengan baik, itu akan menjadi salah satu masa yang gak terlupakan. Bahkan kalo udah gedhe terus flashback masa itu, pasti senyum-senyum sendiri di buatnya. Percaya deh. Jadi aku mau jelasin gimana cirinya alay itu, tapi karena aku bahas adekku yang lagi alay yaa ini fokusnya ke adekku aja yah hehehe....
Tanda-tanda ABG alay (versi adek aku) :
1.    Model rambut
Mereka biasanya rambut potong tipis sebelah kiri kanan tapi bagian atas tuebel kek sarang burung. layaknya orang potong rambut di salon tapi berhenti sebelum finish karena kekurangan ongkos. Tapi mereka menyebut itu “gaul” kek adekku beberapa waktu lalu.
Pas aku lihat model rambut barunya, refleks aku teriak “ya ampun dek, rambutmu alay ngertioo.. iyuuhhh”
Dan dengan wajah bangga dia menjawab “samean iku gak ngerti gaul mbak”. Diapun pergi meninggalkan aku yang masih mengukur ketebalan rambut bagian atasnya dengan meteran.
Dan adekku ini masih cukup mending dibanding anak alay yang rambutnya udah di cat sana sini. Rambutnya udah macam kanvas dari kain blacu yang ada gambaran pelangi karya anak balita. Predikat ke-alay-an mereka udah tak tertandingi yaitu “alay sekali” dengan nilai 9. Sungguh istimewa.
2.       Akun sosmed.
Anak alay yang tak kasat mata bisa dideteksi dari akun sosmednya. Maksudnya kita bisa saja tak pernah melihat dia sebelumnya tapi bisa tahu dia alay atau enggak lewat akun sosmednya.
Khusus adek aku nama akun fesbuknya udah predikat “cukup alay” dengan nilai raport ke-alay-an sebesar 7. Kalo dulu sih nilainya 9 alias “alay sekali”. Setelah saya kasih tahu dan untungnya dia mau dengerin jadi dia mau ganti nama akunnya. Kalo enggak, sungguh sebuah nama yang malu-maluin. Gimana enggak? Nama yang sebenarnya hanya ada huruf “i” disitu ditambah dengan “e” menjadi “ie”. Dan nama adekku yang ada huruf “i”nya gak cuman satu tapi banyak. Terus huruf “s” diganti dengan “z” ditambah lagi nama komunitas dimana huruf “j”nya ditambah dengan “d” “ menjadi “dj” layaknya ejaan lama. Bisa dibayangkan kan betapa alaynya nama akun fesbuk adek aku? Hmm.. begitulah..
Kalopun aku ingetin “nama akun fesbukmu loh masih alay dek”
Jawabannya seperti lagu lama yang di ulang-ulang “itu namanya gaul mbak” dan yah, ekspresiku saat itu pasti sama persis dengan saat kamu baca ini sekarang :D
3.       Gak bisa bedain huruf dan angka, ejaan lama dan ejaan baru
Seperti yang udah aku tulis di poin sebelumnya, mereka menggunakan ejaan lama untuk menulis. Dan mereka bilang itu gaul? Aku gagal paham. Sebab jaman aku alay aku masih bisa bedain mana ejaan lama dan baru, gak nambahin huruf vokal yang tidak perlu. Aku masih berada di jalan yang benar meski sebelah kakiku udah hampir tenggelam ke jurang ke-alay-an. Meskipun saat itu aku juga masih sering mengganti huruf seperti “s” menjadi “z” tapi aku gak separah adekku. Yang lebih parah lagi adalah ket!k4 m3r3k4 m3NuL!ez d3r3t4n k4l!m4t m3nGGun4k4n 4Ngk4 m3sk!pun 4ku y4k!n m3r3k4 p4h4m bed4nya h03r03f d4n 4ngk4. D4n h4z!elny4 s3p3rTy ini, t4mp4k m!r!p d3r3t4n pL4t n0m3r. Gak tahu harus bangga atau ngelus dada? Disatu sisi mereka bisa menulis dan membaca angka dan huruf yang betrtebaran jadi satu seakan membaca sandi atau kode. Dan itu adalah kode yang lebih rumit dari sandi rumput. Tapi juga malah terlihat berlebihan dan yang pasti gak efisien bagi kita yang bacanya jadi terbata-bata kek anak balita baru mau belajar baca. Seperti yang ku tulis barusan. Dan sungguh pas nulis tulisan itu jariku merayap kesana-sini kebingungan.
4.       Fashionnya ......ehm....
Yah, udah ketebak kan? Mereka para alayers seering menganggap fashion atau dandanan norak merak sebagai sebuah “kekinian”. Mereka memang salah gaul. Pengen gaul kekinian tapi salah jalan. Bagaimana dengan adekku? Aku belum paham betul selera fashion anak alay. Tapi soal adekku, sedikit banyak aku tahu. Contohnya? Sekolah pakek sepatu hitam dengan 2 warna tali yang berbeda dipakai bersamaan. Masih mending warna talinya hitam putih atau abu-abu. Lah adekku? Warna kuning stabilo di padukan dengan warna oranye. Gimana? Udah gaul kece badai kan adekku? -_-
Begitulah sedikit cerita tentang masa alay yang kini dilewati adekku. Apa perlu dia dilarang agar gak jadi anak alay yang gak malu-mauin? Menurut saya sih enggak. Asal masih dalam batas normal, dan nggak melanggar aturan agama. Saya cuman akan memberi beberapa saran, mengarahkan agar alaynya gak kebablasan. Toh, kalo nanti masa ini sudah dilewati, saya yakin dia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. suatu saat dia akan menertawakan masa ini karena melihat tingkah lakunya. Pun akan tersenyum karena masa ini menjadi salah satu masa yang membahagiakan dan penuh pelajaran.
Gimana dengan aku? Alhamdulillah pernah alay meskipun gak separah itu. Setidaknya aku pernah merasakan gimana rasanya menjadi remaja ababil yang alay. Alay yang masih batas normal loh ya, bukan alay yang kebablasan. Mungkin kalian akan bertanya “kok pernah alay malah di syukuri sih Nda? Bukannya malu?”
Kenapa harus malu? Saya yakin semua orang pasti akan melewati masa itu. Tinggal bagaimana setiap orang menghadapinya itu berbeda-beda.  Saya bersyukur dengan masa itu, karena darinya saya jadi banyak tahu. Saya mengambil banyak pelajaran dari masa itu. Saya gak bayangin gimana saya sekarang jika masa remaja saya lempeng-lempeng aja. Saya yang dulu mungkin tidak sebahagia itu jika saya menolak menjadi alay dan memilih menjadi remaja kaku. Dan karena pernah alay saya jadi belajar gimana caranya biar punya malu

“Alay bukan penyakit sejuta umat yang perlu di obati atau di basmi. Dia hanya salah satu  fase metamorfosa seluruh manusia. Pengendali efek sampingnya adalah  virus bernama “norma” yang harus disuntikkan terus-menerus.” -Me