Selasa, 17 November 2015

SV_LUV



“udah deh nanti aku tunjukin ke kamu kalo aku ketemu orangnya”
“kamu bikin penasaran aku aja, La. Emang orangnya kayak apa sih?”
“kata kuncinya cuman satu, perfect”
“eh, La, secakep-cakepnya orang itu gak ada kali yang sampek perfect kayak yang kamu omongin gitu” kataku ikut nimbrung diantara Lala dan Putri.
“tapi Nan, dia gak cuman cakep aja” katanya sambil agak lari menyejajarkan dengan langkahku yang cepat.
“ah udahlah, panas nih. Ayo cepet jalannya” kataku
Berjalan dari kantin yang berada di pojok selatan sekolah dengan jarak yang cukup jauh dari kelasku yang dipojok utara tak terasa melelahkan karena sepanjang langkah kami dipenuhi dengan obrolan tentang cowok gak jelas itu.
“omegat” Lala terkejut seketika hingga mengagetkan kami
“kenapa kamu La?” akupun penasaran.
“itu Put, cowok yang aku ceritakan ke kamu tadi. Dia disana” Lala masih tak mengalihkan pandangannya sambil memegangi lengan Putri.
“ya ampun, dia lebih dari yang aku bayangkan”
Cowok itu, iya, dia. Dia yang selama hampir seminggu ini menjadi bahan pembicaraan antara Lala dan Putri, dua sahabatku yang mungkin selanjutnya akan linglung karenanya.
Dia sekarang berada di depan kelasku, tepat didepan pintu. Duduk di kursi dengan santainya, kaki kanannya diangkat menindih kaki kiri, rambutnya terlihat agak bahas, sepertinya dia baru saja mengikuti lomba volly yang barusan selesai. Dia terlihat imut dengan ekspresinya, ekspresi yang membuat duniaku berhenti berputar, kesadaranku hilang seketika, detak jantungku bertambah cepat 1000 kali, ekspresi pertama yang kulihat hingga bertahun-tahun kedepan aku tak bisa menghapus lukisan indah parasnya dari benak dan pikiranku.
Saat itu aku tak punya nyali sedikitpun, karena baju yang ia pakai membuatku menciut, seragam olah raga berwarna orange, warna khas tahun angkatannya yang tepat satu tahun diatasku,  tahun 2006. Headset menempel dikedua telinganya, sembari sesekali meneguk minuman digenggamannya, dia terlihat begitu menikmati siang yang begitu panas itu, tanpa melihat ada pak Lulut, guru paling killer di sekolah yang sudah berjalan menuju kelasku.
“sssst, kak... “ kataku dari kejauhan. Dia megalihkan pandangannya pada kami bertiga.
“ituu, pak Lulut” kata Lala sambil menunjuk ke arah guru kami yang kelihatannya hendak makan orang.
Melihat beliau, dia sontak berdiri dan berlari pergi dari kelas kami menghindari pak Lulut.
Sepanjang pelajaran akuntansi by pak Lulut, aku sama sekali gak konsen. Selain karena gak suka pelajaran memuakkan itu, aku masih saja teringat seniorku tadi.
“La, siapa cowok tadi namanya?” tanyaku penuh penasaran.
“Antas. Kamu kenapa? Kamu suka sama dia? Tadinya cuek, sekarang suka, huh” kata Lala sebal.
“ih, siapa juga yanng suka sama dia?cuman pengen tahu aja kok” kataku agak gugup. Entah kenapa.
Bbuuukkk........
Rasanya ada benda berat mendarat di kepalaku, dan semuanya menjadi gelap...
 “Nan, kamu udah sadar?”
Putih, semua serba putih, dan aku terbaring di atas kasur  yang juga putih. Ah, aku di UKS...
Tubuhku masih terasa lemas. Kepalaku juga masih pusing.
“aku tadi kenapa ya Ri?”  tanyaku berusaha mengingat-ingat
“kamu tadi dicium sama bola basket pas jam kelas kita tanding basket”
“o iya, aku lupa.  Terus gimana hasilnya?”
“kan tadi pas kamu pingsan kita tanding sama IPS 2, itu kita menang, terus besok lanjut sama kakak IPA 5”
“what? XII IPA 5 maksudnya?” teriakku terkejut.
“iya lah, siapa lagi  kakak kelas kita?”
--------------------------------
Ku coretkan garis-garis tak bermakna di lembar buku tugasku bagian belakang. Ku tutup buku tugasku seketika, dari pada ia menjadi korban kegundahanku. Ku ambil lembaran putih, dan ku ikuti tanganku yanng menggerakkan pena tanpa arah. Entah apa yang kurasakan malam itu. Tiba-tiba kenangan masa lalu yang membayangiku sejak siang tadi, kini menari-nari di benakku, membuatku semakin merasa tak tentu. Hangat,, ada sesuatu yanng menyentuh pipiku.. ah, kenapa kau harus muncul? Pikirku. Hatiku semakin sesak.
Tiba-tiba kenangan itu diputar lagi dihadapanku. Mulai dari 6 tahun lalu, pertama kali aku melihatnya yang berlari ketakutan karena takut pada pak Lulut, ketika aku mengamatinya tiap kali main basket. Perpisahan di sekolah kami, yang membuatku bekerja keras untuk belajar agar aku diterima disekolah ini dan bisa bertemu denganmu lagi, hingga detik-detik ini dimana aku akan segara berpisah denganmu untuk yang kedua kalinya. Semua kenangan itu bagaikan kaset  lawas yang diputar kembali tanpa ada satu scene pun yang terlewatkan. Namun semua scene iitu hanya aku yang membangun dan hanya aku yang mengabadikannya. Diluar batas sadarmu, dalam ketiadaanku disetiap detik hidupmu aku selalu mengabadikan setia saat ketika ada kamu, tanpa pernah kamu sadari.
Aku sadar aku telah menyayangimmu dengan begitu lamanya. Tapi entah mengapa aku tak pernah merasa lelah dengan setiap butir rasa yag muncul untuk kamu. Entah kenapa juga aku tetap bertahan dalam ketidak tahuanmu akan semua yang telah aku alami. Aku merasa terlalu berani karena telah memmunculkan rasa ini untuk kamu hingga begitu lamanya. Aku bukan siapa-siapa yang bahkan tak pantas untuk kamu kenal.
Aku sudah mengejarmu sampai titik ini. Bagiku mungkin tidak cukup.  Tapi aku tak bisa lagi menngejarmu seperti dulu. Aku sudah terlalu lelah. Aku lelah dalam ketidakpekaanmu selama ini. Aku lelah dengan diriku yang tak mampu berbuat apa-apa untuk kamu. Meski aku tak pernah lelah menyayangimu.
Besok adalah saat dimana aku bisa melihatmu mungkin untuk detik-detik terakhir, hingga kau akan meninggalkan sekolah ini. Meninggalkan wanita bodoh yanng telah mencintaimu selama 6 tahun dan tak pernah berani mengunngkapkannya.
Selamat tinggal kakak, akan ku lepas perlahan rassa ini, akan ku uapkan perlahan semua kenangan itu. Pergilah, karen ada atau tidak adanya aku, kau akan baik-baik saja

Minggu, 15 November 2015




Jika ingin pergi, pergilah. Tapi tolong jangan sering melihat ke arahku ketika kamu melagkah. Aku masih belum terbiasa tanpa senyuman itu. Aku masih saja sakit ketika mlihat senyum itu semakin menjauhiku..
Jika kamu ingin berpaling, berpalinglah. Tapi jangan setengah-setengah. Kau pasti tahu bagaimana rasanya ketika kau menicintai sepenuhnya tapi hanya dicintai seperlunya...
Jika kau ingin melepaskanku, lepaskanlah. Ini bukan ikatan ynag kuat yang aku sendiri tak mampu melepaskan diri. Mungkin saja dengan melepaskanku, lantas kau menemui kebahagiaan..

Jangan pernah ragu untuk berkata : aku tak lagi mencintaimu. Menyakitkan memang bagiku. Tapi jika itu melegakanmu? Aku tak apa.
Bagiku, kau memang hampir segalanya, tapi aku bagimu? sekarang mungkin bukan apa-apa..
Pergilah,. Karna akan lebih menyakitkan ketika kau harus menjaga sesuatu yang tak selamanya ingin kau miliki. Ketika kau terpaksa menjaga hati yang tak ingin selamanya kau cintai..
Akupun cukup tau diri..
Dulu aku memang sering merengek untuk terus bersamamu. Sekarang mungkin masih begitu. Tapi aku semakin tau bahwa ketika kita bersama, kebahagiaan tak menghampiri kebersaman kita..
Dulu aku sering mendapat kabar darimu. Sekarang memang inginku masih begitu, tapi kemudian aku paham bahwa kau memang tak ingin mengabariku..
Pergilah, jangan kau tanyakan bagaimana aku...
Tanpa kau tanya kau pasti tahu, ketika kau pergi aku hancur karna masih sangat mencintaimu..
Tapi percayalah, aku tak selemah itu..
Aku masih punya penciptamu, penciptaku juga.. ia menciptakan aku untuk menghadapi semua masalah, termasuk kehilanganmu..
Ia tak kan mmbiarkan aku terpuruk hanya karna kepergianmu..
Penciptaku pasti tahu bagaimana mengembalikan hatiku yang telah menjadi kepingan karnamu..
Kau harus tahu,..
Kau meninggalkanku, tapi penciptaku tak pernah sedikitpun berencana meninggalkanku...

Rabu, 11 November 2015

baru saja kehilangan impian, tapi darinya ku temukan sebuah impian :)