“udah deh nanti aku tunjukin ke
kamu kalo aku ketemu orangnya”
“kamu bikin penasaran aku aja,
La. Emang orangnya kayak apa sih?”
“kata kuncinya cuman satu,
perfect”
“eh, La, secakep-cakepnya orang
itu gak ada kali yang sampek perfect kayak yang kamu omongin gitu” kataku ikut
nimbrung diantara Lala dan Putri.
“tapi Nan, dia gak cuman cakep
aja” katanya sambil agak lari menyejajarkan dengan langkahku yang cepat.
“ah udahlah, panas nih. Ayo cepet
jalannya” kataku
Berjalan dari kantin yang berada
di pojok selatan sekolah dengan jarak yang cukup jauh dari kelasku yang dipojok
utara tak terasa melelahkan karena sepanjang langkah kami dipenuhi dengan
obrolan tentang cowok gak jelas itu.
“omegat” Lala terkejut seketika
hingga mengagetkan kami
“kenapa kamu La?” akupun
penasaran.
“itu Put, cowok yang aku
ceritakan ke kamu tadi. Dia disana” Lala masih tak mengalihkan pandangannya
sambil memegangi lengan Putri.
“ya ampun, dia lebih dari yang
aku bayangkan”
Cowok itu, iya, dia. Dia yang
selama hampir seminggu ini menjadi bahan pembicaraan antara Lala dan Putri, dua
sahabatku yang mungkin selanjutnya akan linglung karenanya.
Dia sekarang berada di depan
kelasku, tepat didepan pintu. Duduk di kursi dengan santainya, kaki kanannya
diangkat menindih kaki kiri, rambutnya terlihat agak bahas, sepertinya dia baru
saja mengikuti lomba volly yang barusan selesai. Dia terlihat imut dengan
ekspresinya, ekspresi yang membuat duniaku berhenti berputar, kesadaranku
hilang seketika, detak jantungku bertambah cepat 1000 kali, ekspresi pertama
yang kulihat hingga bertahun-tahun kedepan aku tak bisa menghapus lukisan indah
parasnya dari benak dan pikiranku.
Saat itu aku tak punya nyali
sedikitpun, karena baju yang ia pakai membuatku menciut, seragam olah raga
berwarna orange, warna khas tahun angkatannya yang tepat satu tahun diatasku, tahun 2006. Headset menempel dikedua
telinganya, sembari sesekali meneguk minuman digenggamannya, dia terlihat
begitu menikmati siang yang begitu panas itu, tanpa melihat ada pak Lulut, guru
paling killer di sekolah yang sudah berjalan menuju kelasku.
“sssst, kak... “ kataku dari
kejauhan. Dia megalihkan pandangannya pada kami bertiga.
“ituu, pak Lulut” kata Lala
sambil menunjuk ke arah guru kami yang kelihatannya hendak makan orang.
Melihat beliau, dia sontak
berdiri dan berlari pergi dari kelas kami menghindari pak Lulut.
Sepanjang pelajaran akuntansi by
pak Lulut, aku sama sekali gak konsen. Selain karena gak suka pelajaran
memuakkan itu, aku masih saja teringat seniorku tadi.
“La, siapa cowok tadi namanya?”
tanyaku penuh penasaran.
“Antas. Kamu kenapa? Kamu suka
sama dia? Tadinya cuek, sekarang suka, huh” kata Lala sebal.
“ih, siapa juga yanng suka sama
dia?cuman pengen tahu aja kok” kataku agak gugup. Entah kenapa.
Bbuuukkk........
Rasanya ada benda berat mendarat
di kepalaku, dan semuanya menjadi gelap...
“Nan, kamu udah sadar?”
Putih, semua serba putih, dan aku
terbaring di atas kasur yang juga putih.
Ah, aku di UKS...
Tubuhku masih terasa lemas.
Kepalaku juga masih pusing.
“aku tadi kenapa ya Ri?” tanyaku berusaha mengingat-ingat
“kamu tadi dicium sama bola
basket pas jam kelas kita tanding basket”
“o iya, aku lupa. Terus gimana hasilnya?”
“kan tadi pas kamu pingsan kita
tanding sama IPS 2, itu kita menang, terus besok lanjut sama kakak IPA 5”
“what? XII IPA 5 maksudnya?”
teriakku terkejut.
“iya lah, siapa lagi kakak kelas kita?”
--------------------------------
Ku coretkan garis-garis tak
bermakna di lembar buku tugasku bagian belakang. Ku tutup buku tugasku
seketika, dari pada ia menjadi korban kegundahanku. Ku ambil lembaran putih,
dan ku ikuti tanganku yanng menggerakkan pena tanpa arah. Entah apa yang
kurasakan malam itu. Tiba-tiba kenangan masa lalu yang membayangiku sejak siang
tadi, kini menari-nari di benakku, membuatku semakin merasa tak tentu. Hangat,,
ada sesuatu yanng menyentuh pipiku.. ah, kenapa kau harus muncul? Pikirku.
Hatiku semakin sesak.
Tiba-tiba kenangan itu diputar
lagi dihadapanku. Mulai dari 6 tahun lalu, pertama kali aku melihatnya yang
berlari ketakutan karena takut pada pak Lulut, ketika aku mengamatinya tiap
kali main basket. Perpisahan di sekolah kami, yang membuatku bekerja keras
untuk belajar agar aku diterima disekolah ini dan bisa bertemu denganmu lagi,
hingga detik-detik ini dimana aku akan segara berpisah denganmu untuk yang
kedua kalinya. Semua kenangan itu bagaikan kaset lawas yang diputar kembali tanpa ada satu
scene pun yang terlewatkan. Namun semua scene iitu hanya aku yang membangun dan
hanya aku yang mengabadikannya. Diluar batas sadarmu, dalam ketiadaanku
disetiap detik hidupmu aku selalu mengabadikan setia saat ketika ada kamu,
tanpa pernah kamu sadari.
Aku sadar aku telah menyayangimmu
dengan begitu lamanya. Tapi entah mengapa aku tak pernah merasa lelah dengan
setiap butir rasa yag muncul untuk kamu. Entah kenapa juga aku tetap bertahan
dalam ketidak tahuanmu akan semua yang telah aku alami. Aku merasa terlalu
berani karena telah memmunculkan rasa ini untuk kamu hingga begitu lamanya. Aku
bukan siapa-siapa yang bahkan tak pantas untuk kamu kenal.
Aku sudah mengejarmu sampai titik
ini. Bagiku mungkin tidak cukup. Tapi
aku tak bisa lagi menngejarmu seperti dulu. Aku sudah terlalu lelah. Aku lelah
dalam ketidakpekaanmu selama ini. Aku lelah dengan diriku yang tak mampu
berbuat apa-apa untuk kamu. Meski aku tak pernah lelah menyayangimu.
Besok adalah saat dimana aku bisa
melihatmu mungkin untuk detik-detik terakhir, hingga kau akan meninggalkan
sekolah ini. Meninggalkan wanita bodoh yanng telah mencintaimu selama 6 tahun dan
tak pernah berani mengunngkapkannya.
Selamat tinggal kakak, akan ku
lepas perlahan rassa ini, akan ku uapkan perlahan semua kenangan itu. Pergilah,
karen ada atau tidak adanya aku, kau akan baik-baik saja