Kamis, 08 Desember 2016

Wanitamu itu....

Wanitamu..

Bukan siapa yang lebih dulu mencintai..

Tapi siapa yang tak pernah pergi..

Bukan yang sangat mencintai..

Tapi yang selalu mendampingi...

Bukan seberapa sering ia berkata “aku mencintaimu”

Tapi yang selalu ada dan berkata “aku ada untukmu”

Bukan yang mencintaimu pada pandangan pertama..

Tetapi yang mencintaimu dengan apa adanya..

bukan yang mencintaimu dengan seluruh dirinya..

tapi yang mencintaimu dengan setulusnya..

Bukan yang selalu menggenggam tanganmu..

Tapi yang mengulurkan tangannya untukmu ketika kamu jatuh..

Bukan yang menunggumu jauh dipuncak..

Tapi yang setia mendampingimu menuju puncak..

Wanitamu..

Bukan seberapa sering ia membalas pesan darimu..

Tapi seberapa sering ia mengajak sholat lima waktu..

Bukan yang sekarang membuka auratnya didepanmu..

Tetapi yang sekarang menjaga auratnya hanya untukmu..

Bukan yang selalu ingin berdua denganmu..

Tetapi yang selalu ingin sholat jamaah  denganmu

Bukan yang selalu membanggakanmu didepan temannya..

Tetapi yang selalu menyebut namamu disetiap doanya..

Wanitamu..

Akan diam ketika kamu bertindak..

Akan menunduk ketika kamu memandang..

Dia hanya menitipkan rindunya pada setiap do’a tanpa sepengetahuanmu..

Hanya menyebutmu ketika ia berbincang dengan TuhanNya..

Ia tak hanya mencintaimu..

Tetapi juga bersedia menjadi makmum terbaik untukmu..

Selasa, 08 November 2016

Gerimis..



Teruntuk : nama yang selalu terbawa oleh rintik hujan
 masih dengannya aku berdamai..masih karnanya aku terbasahi oleh kenangan.. tanpa ragu lagi aku melangkah. Yang awalnya aku hanya tersenyum melihat kehadirannya dengan keharmonisan diantara dedaunan, kini aku tak sungkan lagi untuk menyapa ditengah-tenghanya dan membiarkan tubuhku berbasah-basahan  dengannya.
Aku terdiam sejenak.. basah, dingin, damai..
Ah, beginilah gerimis selalu membuatku nyaman, dengan seluruh kuasaNya..
Diantaranya masih aku mengelu-elukan kehadirannya, bergurau basah dengannya, dan karenanya menghadirkan secuil kenangan abadi tentang cinta ini...
Aku masih tegak berdiri ditengah gerimis hujan, masih membiarkannya perlahan menyentuh tubuhku dengan lembut dan dinginnya.. aku menutup mata, perlahan ku angkat kepalaku menghadap kesana, cakrawala sendu yang serasa menertawakan tingkahku. Aku mungkin dengan berani akan menanatangnya. Namun tidak untuk saat ini..
tanpa sadar dengan lembutnya dia menyentuh wajahku,  semakin aku bertahan,  semakin seringnya dia menyentuh tiap pori wajahku. Perlahan, dingin, merasuk semakin dalam. Masih dengan kegelapan dalam penglihatanku. Hinggga dalam gelap ini, ku temukan sosok bayangan indah dengan senyum yang sudah tak asing dalam ingatanku. Kamu..
dalam tiap jengkal ingatanku, kau selalu menyatu dengan gerimis yang merdu..
di antara rintik hujan ini aku ingin mengenangmu..
diantara tiap tetesnya, aku ingin menyampaikan seluruh rinduku..
diantara gerimis aku ingin memeluk bayanganmu hingga dingin ini sirna..
aku berkhayal bahwa tetesan yang membasahiku ini adalah tangan lembutmu yang selalu mengacak-acak kepalaku..
dengan anganku, kau begitu nyata hadir mendekap dan mendamaikanku
hanya dalam hati, aku ingin membisikkan seluruh rasa yang selalu bergelayut tentangmu
masih denganmu, ingatanku  terlalu sering bersua..
rindu..
aku berharap bisa menyentuhnya diantara mimpi yang ada
menggenggam jemarinya saat tersulit itu tiba
mengusap air mata dan keringatnya dalam setiap usaha dan doa
tapi entah..
aku hanya bisa terdiam, tanpa mampu melawan
aku hanya bisa memberi senyuman dari kejauhan
yang mungkin tak pernah dia sadar
tuhan, bukankah sejauh apapun doa itu pasti akan tersampaikan?
Bukankah sediam apapun  rindu itu pasti akan terungkapkan?
Tuhan, di antara rahmat yang membasahiku saat ini, sampaikan padanya, aku selalu merindukan kehadirannya. Merindukan setiap detik waktu bersamanya..
 tapi Tuhan, marahkah Engkau ketika aku sangat mengaharapkannya? Maaf Tuhan, tapi aku hanya ingin berterus terang padaMu..
 jika memang begitu, sampaikan padanya,...
Bahwa selalu ada namanya disetiap doa dalam sujudku
Bahwa selalu ada rindu untuknya yang terselip diantara rinduku padaMu
 Bahwa selalu ada harapan dengannya  diantara harapan masa depanku..
Tuhan, aku hanya wanita lemah yang hanya bisa mendoakannya, yang hanya bisa menangisinya diantara rintik hujan..
Sungguh, aku tak mampu berbuat apapun sekarang  Tuhan,
tapi aku selalu percaya tak pernah ada doa  yang sia-sia..


Nanda Silviana

Surabaya, 7 April 2015, 13:30



Janjimu Serapuh Daun Maple





Baby open your heart
Won’t you give me a second chance
And I’ll be here forever
Open your heart
Let me show you how much I care
And I will make you understand
If you open your heart to love me once again

Lagu-lagu lawas grup legendaris Weastlife mengudara ditengah dingin deretan kafe sekitar bandara Internasional Toronto. Jilbabku berkibar kedinginan terbawa angin. Aku mempercepat langkah kaki, tak peduli pada dedaunan maple yang mungin kesakitan karena injakan tak manusiawiku. Sesekali kulirik jam dipergelangan tangan kiriku yang menciut dibawah jaket bulu setebal 5 cm. Sedikit lagi, gumamku. Ku tambah lagi kecepatan kakiku. Ku terobos semua yang didepanku, ku terjang apapun yang dihadapanku. Tujuanku hanya satu, pesawat yang akan membawaku terbang ke tanah air tercintaku, Indonesia.
Pesawat mulai naik dengan stabil. Aku mengarahkan pandanganku ke luar jendela, deretan gedung pencakar langit yang seolah say good bye padaku. Mereka, Si Raja penguasa kota Toronto, menatapku kokoh seolah tak membiarkan aku pergi. Sikap angkuhnya mengingatkanku pada kali pertama aku melihatnya setahun lalu. Dari ketinggian yang sama, pada musim yang sama, dengan perasaan kagum dan tak percaya. Aku terbang ke negara dengan lambang maple yang terkulai manis sebagai sentral benderanya. Aku menyapa penguasa kota yang berdiri dengan megahnya. Akupun berlarian di antara maple yang mulai berguguran di tiap sudut kota. Kau begitu rapuh, bisikku ketika pertama kali menyentuhnya.
Semua berawal dari sebuah pengakuan mengejutkan di parkiran sekolah, sepulang acara perpisahan kakak kelas XII. “Bella, aku menyukaimu. Tapi jangan khawatir. Aku tak mengharapkan jawabanmu. Aku hanya tak ingin menyesal karena tak mengungkapkannya”. Dia hanya mengatakan itu lantas pergi meninggalkan seribu pertanyaan yang nyangkut ditenggorokanku. Untuk beberapa saat jiwaku terbang ke angkasa, mataku tak berkedip mengikuti punggungnya yang hampir tak tampak. Kak Fiman, kakak kelas yang tepat satu tahun diatasku. Aku tak percaya dibuatnya. Dia adalah cowok yang cerdas paling dan populer yang selalu menjadi objek perhatian, korban kegenitan, dan topik utama biang gosip di seantero sekolah. Mana mungkin dia menyukaiku yang tak terlalu pintar dan lebih pada “agak bodoh” ini? Tapi aku tak kehilangan percaya diri. Aku yakin dia benar-benar menyukaiku.
“Good night miss, what can I do for you? Is there anything to order?” seorang pramugari cantik nan anggun berdiri disebelahku menyuguhkan senyuman terramahnya.
“No, thanks” ucapku. Aku kembali menopang dagu memandang ke arah luar jendela. Masih dengan angan yang tak terbatas tentangnya, satu-satunya alasan kenapa aku sampai disini. Karena aku ingin sebanding denganya yang kuliah S1 di Kairo. Aku memang seperti pungguk yang merindukan bulan. Tapi bagiku tidak ada yang tidak mungkin. Meskipun aku adalah pungguk, aku pikir aku bisa berevolusi menjadi rajawali atau bahkan garuda. Dalam keadaan tertentu teori Darwin juga sedikit membantu, meskipun agak konyol jika dibayangkan. Aku benar-benar memperjuangkan apa yang ku mimpikan. Jika kak Firman telah menginjakkan kakinya di altar suci Universitas Al-Azhar, setidaknya aku juga menyentuhkan ujung kakiku ini di negeri luar sana. Dan dengan usaha jungkir balik tak keruan, setamat S1 aku berhasil menapakkan kaki-kaki mungilku di halaman penuh maple rapuh yang berguguran di Universitas Toronto, musim gugur lalu.
Kau tahu rasanya? Menakjubkan. Cinta yang berawal di parkiran sekolah itu membawaku hingga kesini. Setetes embun harapan yang begitu menyegarkan telah diberikan kak Firman padaku, membangkitkan seluruh gairah dan anganku untuk bermimpi. Aku menyukainya. Dengan menyukainya, aku mampu melawan seluruh keraguan dan kekhawatiran. Dengan menyukainya, aku mampu merobohkan dinding pembatas dalam diriku. Dengan menyukainya, aku tak takut menggantungkan seluruh angan dalam asaku. Cinta yang dia ungkapkan dulu memang semu, tapi tidak dengan semangat yang ia curahkan. Karena hanya dengan menyukainya, akupun tahu bagaimana aku harus bertahan hidup dalam tiap-tiap kenyataan buruk yang kapanpun bisa membunuhku. Dan kak Firman, semangatnya, mampu membuatku terus bertahan hidup dalam kesendirian. Semangatnya adalah sinar yang tak pernah redup, memberiku harapan meski aku dirundung kesepian yang teramat dalam.
“Besok aku akan berangkat ke Kairo” katanya dengan begitu tenang.
“Maaf aku tidak bisa mengantar. Tapi jika nanti kau pulang, kabari aku. Aku akan menjemputmu di bandara.” Kata-kata bodoh yang tak pernah bisa ku lupakan. Harusnya aku mengungkapkan perasaanku, tapi justru janji bodoh itu yang terucap oleh lidah tak bertulang milikku. Kata-kata bodoh yang menutupi seluruh sembilu dalam hati kala itu. Tapi dia hanya tersenyum dan membuatku ternganga untuk kesekian kali.
“Baiklah. Janji ini juga berlaku untukmu. Jika nanti kamu kuliah ke luar negeri, biar aku yang menjemputmu di bandara” sebuah janji yang terangkai manis dalam ingatanku. Mengoyak seluruh ketenangan, meleburkan kesedihan. Dia meyakinkanku, seolah dia juga menunggu dan menantikan. Dia membuatku berkahayal seolah perpisahan itu hanya beberapa jam. Dia adalah akar dari kesedihan, racun dari perihnya kerinduan, tapi dia jua penawar yang menetralkan seluruh kesakitan. Semoga dia mengingat janji itu hingga hari ini.
Klak..... lagi-lagi suara membuyarkan seluruh lamunanku. Kali ini hapeku terjatuh. Ku ambil benda mungil itu, ku buka lock screennya. Foto tiga anggota keluargaku memenuhi layar. Adik perempuanku diapit oleh ayah dan ibu. Kebahagiaan terpancar begitu nyata. Adikku terlihat begitu anggun dan manis dengan kebaya warna putih dan hijab yang di kelilingi renda dan kristal-kristal yang memancarkan kilau putih. Jari manisnya terlihat mencolok dengan cincin emas yang kini melingkar. Ya, adik yang dua tahun dibawahku menikah satu bulan yang lalu. Aku sudah berencana untuk pulang sebelum ijab qobulnya. Tapi apa daya, risetku tiba-tiba mengalami masalah hingga aku harus menunda kepulanganku sampai hari ini. Selama sebulan penuh kemarin aku tenggelam dalam risetku. Hampir 24 jam setiap harinya aku berada di laboratorium untuk mengurus riset yang membuatku hampir gila. Karena tak ingin mengganggu, adikku hanya mengirim satu foto  yang langsung ku jadikan wallpaper hp  untuk menyemangatiku. Aku maklum juga jika adikku tak mengirim fotonya dengan suami. Mungkin dia agak sungkan denganku karena melangkahi kakaknya yang isi otaknya cuman kuliah dan penelitian. Akupun tak terlalu ambil pusing soal foto. Yang terpenting saat itu hanya riset dan kepulanganku yang tak boleh ku tunda lagi. Aku ingin hadir di resepsi adikku yang dilaksanakan sebulan setelah ijab qobul, tepatnya 3 hari mendatang. Dia adalah adik yang sangat kusayangi. Adik yang berbakti dan tak egois sepertiku. Dia jauh lebih pintar dariku. Tapi dia tak ambil pusing soal tempat kuliah. Dia cukup terima ketika harus kuliah di Semarang, “biar tetep bisa menjaga ayah dan ibu,” katanya. Berbeda denganku, yang keukeuh dengan motto Carilah Ilmu Walau Ke Negri China. Dia sosok taat agama, apapun aturan agama ia kerjakan semaksimal dia bisa. Tak sepertiku yang masih sering tidak konsisten dalam menjalankan aturanNya yang menurutku masih “berat” untuk ku laksanakan.
Aku celingukan mencari adikku yang masih belum kudapati batang hidungnya ditengah-tengah keramaian bagian arrival Bandara Achmad Yani. Tiba-tiba mataku terpaku pada sesosok laki-laki jangkung dengan jaket berwarna biru tua yang kulihat dari samping. Napasku tercekat. Jantungku berdegup seribu kali lebih cepat, kepalaku tiba-tiba saja pusing, ototku melemas, urat nadi serasa terputus hingga barang bawaanku hampir terjatuh. Allah, nyatakah ini? Diakah itu? Engkau ijabahikah doa yang tak terputus selama lima tahun ini?
“Bella.....” panggilan itu, sapaan itu, senyuman itu, dia melangkah ke arahku sangat cepat. Dan perlahan tapi pasti, kami semakin dekat. Kini jarak bermil-mil dulu berubah tak lebih dari satu meter. Tiba-tiba sekujur tubuhku menjadi kaku, perutku mulas, hatiku bergetar tak keruan, dan parahnya refleksku hilang. Aku ingin menyapanya. Tapi tubuhku mulai kurang ajar. Dia tak menghiraukan perintah tuannya. Napasku masih tak beraturan. Perlahan ku kendalikan diriku. Ku dongakkan kepalaku untuk memandang wajahnya, menatap matanya.
“Kakak..” suara yang tak asing bagiku mengalihkan seluruh perhatianku. Dia Mengembalikan sebagian kesadaranku. Tubuh kecil itu berlari ke arahku dan memelukku seketika, sangat erat. “Kak, Zahra kangen banget sama kakak” sedunya. Tiba-tiba bulir hangat keluar membungkus pipiku. Aku merindukannya, tubuh mungil penuh kehangatan ini.
“Kak, kenalkan, ini Mas Firman, suamiku.” Dan untuk yang kesekian kalinya napasku tercekat. Jantungku diremas dengan kekuatan super, ngilu. Hatiku disayat-sayat setipis preparat, perih. Semoga Zahra tak tahu arti air mata yang kini makin deras membasahi pipiku. Aku memaksakan senyuman, getir. Aku tersambar petir, suara halus itu membuatku hancur berkeping-keping. Langit asaku runtuh seketika. Duniaku berhenti berputar saat itu juga.
“Yaudah, ayo kak kita pulang. Biar Mas Firman yang bawain kopernya.” Suara adikku masih bak petir susulan. Panggilan itu memberi efek menyakitkan bagi telingaku. Mereka berjalan berdampingan, tepat didepanku. Seorang yang menjadi alasanku membangun asa, ia pula yang meruntuhkan. Seorang yang menjadi pondasi mimpiku, kini telah mengokohkan kehidupan adikku. Dia yang dulu pernah berjanji, ternyata hanya sekedar menepati tanpa membawa secuwilpun hati. Seluruh hati dan jiwanya telah dimiliki adikku semata. Dia telah berubah, jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Dia memilih wanita yang tepat sebagai pendamping hidupnya.
Kini aku paham, kata cinta yang tertunda lima tahun lalu itu tak kan pernah terungkapkan. Biar saja ku pendam. Setelah lima tahun memendamnya, aku akan terbiasa kan? Aku harus mampu terbiasa menahan segala rasa, amarah dan kecewa untuk kesekian kali. Sepi, sendiri dan luka hati, biar kuhadapi seorang diri.
Selamat menempuh hidup baru masa remajaku, penabur segala benih mimpi….