Hoooaaaaam.....*yawn*
Hai hai apa kabar? Lama tak posting hehe
Tak ada yang membuatku sibuk selain tugas *eeeaaa sok
sibuk* iyalah tugas. Lalu apalagi?
Pacar? Haha sorry, ane jomblo syar’i*kata temen ane* hehehe
O iya, untuk kali iniane gak mau nulis yang galon-galon
kayak yang kemaren. Ane jarang galon, pan ane jomblo wkwkwk. Cuman galon ples
horor pas kenangan mantan tiba-tiba menampakkan diri tanpa permisi, pan horor
banget tuh. Sekarang ane mo cerita soal salah satu buku. Eh bukan cerita ding,
orang ni buku cerita, ngapain gue ceritain lagi?
Okee, ane bukan mo ngresensi, karena udah lupa sama
reng-rengannya resensi, maklum udah jaman SMP kelas 3, meskipun waktu itu
resensi buku yang ane buat dapat sanjungan dari guru ane, hehehe. Ane cuman mo
komen alias menjadi komentator sesaat buat salah satu buku yang ane kejar-kejar
sampek keliling Surabaya *alay mode on* tapi emang bener, ane nanya ke Gramedia
mana aja di Surabaya dan mereka udah kehabisan stok. Ini mengindikasikan
*kenapa jadi bahasa laprak?* kalo buku ini emang laris manis dipasaran. Baru beberapa bulan nongol di internet dan di
Gramedia, tapi buku ini langsung mendadak ilang, terjual abis. Pas waktu itu
buku ini lagi boomin di inetrnet, ane kagak tertarik. Mungkin ane masih di
dunia anime*dunia imajinasi ane* sehingga ane belum tertarik sama kisah-kisah
dunia nyata yang begitu penuh liku ini *hiks*. Yups, pas buku ini masih
berjajar manis di Gramed, ane lewatin gitu aja, karna ane masih kesurupan dan
lupa diri karena anime. Sekarang setelah ane udah bangun dari dunia imajinasi
yang penuh ilusi itu, ane bbaru sadar kalo ane udah nglewatin satu buku yang
bagus tak terperi. Akhirnya dengan nekat ane nanya langsung, ngetweet ke
penulisnya. Penulisnya bilang, nyuruh ane nanya ke Gramed2 yang ada di
Surabaya. Langsung ane nanya ke Gramed Expo, Gramed Royal, dan mereka kehabisan
stok yang entah sampek kapan. Pan ane jadi di gantungin?*malah baper*. Akhirnya
penulisnya nyaranin ane buat pesen onlen. Tapi yah, gini kan, ane itu masih
polos, belum pernah belanja pakek cara yang macem-macem kek gitu. Ane takut
salah, ane takut ketipu, ane takut,,,,, pokoknya takut deh. Akhirnya ane minta
anter temen ane kalo seumpama kapanpun ane mo transaksi via online.
Eeee....belum sempet ke bank buat bayar onlen, ane terus-terusan ngampus dan
nugas. Berangkat jam setengah tujuh, pulang jam setengah tujuh. Gituuu terus
sampek hampir 2 bulan. Pan gak ada bank buka setelah jam setengah 7, kalopun
ada, ane jamin itu bukan nyimpen uang tapi yang disimpen daun. Dan umpama kalian
nabung disitu, uang kalian bakal berobah jadi daun semua. Kagak mau kan? Kita
jajan pakek daon? Jadi, mending ati-ati sama bank yang masih buka abis maghrib.
Eeeiiitsss, balik lagi,,,,, ah, sampek
beberapa hari yang lalu ane masih belum
kepikiran sama buku itu. Sudah lupa malah. Hingga pada suatu hari, kampus ane
ngadain bazar buku sebagai salah satu acara untuk merayakan ane yang lagi ulang
tahun. Eh salah, aksudnya kampus ane yang lagi ambal warso*baca : ulang tahun*.
Didalem bazar gak cuman jual buku, tapi lebih banyak makanan, terus aksesoris,
baju dan hijab kekinian. Ane sih mau banget beli makanan, tapi uang ane udah
nipis kemaren. Jadi ane jalan lurus aja tanpa tengok kiri kanan. Takut
kelaperan. Akhirnya sampek ujung dan ane gak beli ape-ape. Nah, tanpa ane
sadarin, di ujung ada yang jual buku. Yaudah ane mampir tanpa ada minat buat
beli, karena pas ane lihat disitu yang ada adalah bukunya Asma Nadia, dkk dan bukunya
Tere Liye. Ane suka dua-duanya. Apalagi sama bukunya Bang Tere Liye, tapi belum
sesuai sama kriteria buku yang ane pengen baca. Mata ane muter-muter kesana
kelari. Sedih karena ane gak liat buku yang ane cari. Padahal buku ini termasuk
buku yang terbit dari penerbit milik Asma Nadia. Harusnya bukunya ada, pumpung ane disini, begitu pikir ane sedih
sambil memandangi buku yang berdiri gagah merayuku, tapi tak sedikitpun aku
tergoda. Lalu ada mbak-mbak disamping ane nanya harga buku yang dia pegang sama
penjualnya. Refleks anepun nengok pengen tahu. Dan you know? Ituuu, ituuuu,
buku yang nae cari-cari sampek keliling Surabaya. Ternyata buku itu ada disini.
Didepan ane. Seperti yang lain, buku ini dandan dengan sangat rapi dan klimis,
siap di adopsi siapapun. Buku yang satu ini punya rayuan maut, menurut ane. Dia
melambai-lambai dengan centil minta dibeli sama ane. Dan sungguh, ane gak bisa
nolak, buku ini nembak ane secara langsung dan bikin ane klepek-klepek tanpa
ada kesempatan buat nolak. Akhirnya dengan semua kerendahan hati dan kekuatan
kantong ane, ane beli buku ini. Ane adopsi juga buku ini dengan senang hati,
meski kantong ane meraung-raung sambil menangis.
Kalian tahu buku apaaa?? Buku ini sesuai engan kriteria
genre yang pengen ane baca. Kalo kalian mikir ini buku cerita cinta yang penuh
adegan romantis, ane jawab salah besar. Emang didalamnya ada kisah cinta.
Bahkan di awal menonjolkan kisah cinta. Tapi dari tengah hingga akhir buku ini,
yang diceritakan adalah jungkir baliknya Sang Penulis dalam menggapai mimpi.
Bukunya berjudul “Mengejar-ngejar Mimpi” karya om Dedi Padiku. Buku ini
mengisahkan tentang perjuangan seorang Dedi Padiku yang tinggal di sebuah
kabupaen di Gorontalo. Seorang anak yang hidup sendiri sejak berusia 9 tahun
karena ditinggal seluruh anggota keluarganya pergi dengan tega dan tak pernah
kembali lagi. dia nerusaha membiayai sekolahnya hingga SMK dengan menjado sopir
angkot milik pamannya. Dia sudah nyopir sejak SMP dan rutinitas itu ia lakukan
setiap sepulang sekolah hingga pukul 10 malam. Begitu seterusnya, ia kumpulkan
uangnya untuk membiayai sekolahnya hingga tamat SMK. Kisah kasih sekolahnya
juga gak mulus. Cewek yang dia sukai, Iyen, adalah cewek kaya raya nan pintar dan cantik ba bidadari turun dari
langit. Semua kenyataan hidupnya harus membuatnya kehilangan cinta pertamanya.
Sekali lagi dia merasakan sakit hati menjadi orang yang tak diinginkan dan
terbuang. Rasa sakitnya semakin menjadi
ketika dia tahu bahwa sahabatnya yang tidak pernah jatuh cinta tiba-tiba hampir
gila karena suka dengan Iyen. Lagi-lagi ia harus mundur an mnjauh. Patah hati
hampir membuat ia kehilangan semua cita-cita dan mimpi. Hingg sahabatnya sekampung mampu menyadarkan dia dan kembali
bersekolah. Diaingat betapa sakitnya tak diinginkan oleh banyak orang, mulai
dari keluarga dan orang yang dicintai. Dia sudah dibuang seperti barang yang
tak berguna. Hingga akhirnya dia sadar sudah saatnya untuk membuktikan.
Membuktikn bahwa dia tak serendah itu. Dia bisa sukses setelah semua yang telah
mereka lakukan padanya. Semangatnya bermula ketika dia lulus dengan nilai
terbaik di sekolah dan ingin bekerja di Jepang. Pada tes ke Jepang, dia
mendapat skor tertinggi dari tes pertama hingga akhir. Sudah 99% dia dinyatakan
lolos tes dan akan diberangkatkan ke Jepang, hingga ada satu kendala. Tinggi
badannya tak memenuhi, hanya kurang 2cm*gimana gak miris coba* setelah semua
perjuangan kerasnya untuk bisa melewati tes*baca sendiri bagaimana kerasnya
Dedi berjuang* semua mimpi akan pupus hanya karna 2cm? Dunia tidak adil
baginya. Tapi dia gak kehabisan cara. Dia membentur-benturkan kepalanya ke
tembok agar benjol, katanya mirip adegan di kartun –kartun *yang setelah
dipukul langsung muncul benjolan sebesar bakso* selama tiga hari dibenturkna
kepalanya ke tembok hingga mataya berair dan merasa sakit*ini yang menurut ane
miris banget* alhasil kepalanya benol dan tingginya bertambah 1cm, ya kurang
1cm. Mimpinya menjadi nyata. Tapi dia menyerah karena merasa hampir gagar otak
saat itu. Selanjutnya, dia tidak lolos dan berjuang sebdiri mewujudkan mimpinya
menjadi penulis. Tapi jalan tak semulus yang dikira. Dia harus pindah dari
Palu, kemudian ke Manado, ke Makassar hingga akhirnya ke Jakarta. Dan
profesinya pun tak maiin-main. Mulai dari menjadi sopir, tukang angkat barang, salesman,
menjadi kuli bangunan, sempat ditawari menjadi gigolo dan di culik untuk
dijadikan teroris!! Selama beberapa bulan tinggal di kontrakan kumuh, lalu di
Jakarta harus tidur dibawah tugu monas yang berarti tak punya tempat tinggal.
Berulangkali bahkan ratusan kali terPHP oleh nasib hingga dia pesimis dengan
mimpinya sendiri. meskipun begitu, ia tak pernah mau melepaskan mimpinya*ini
yang bikin ane kagum, ane gak yakin punya semangat seperti ini jika sudah
pesimis*. Dia berfikir bahwa dia sudah menjadi orang miskin, takpunya harta,
benda, cinta, bahkan keluarga. Yang ia miliki tinggal satu, yaitu mimpi. Liku
hidupnya, terjal perjalanannya, kekuatan fisik dan hatinya, semangat
membaranya, hingga nyawa pernah menjadi taruhan untuk memperjuangkan mimpinya,
semua tergambar dalam buku ini. Kisah hidup yang begitu besar daro seorang Dedi
Padiku.
Bagi ane , buku ini beneran hebat. Bukan hanya dari segi
tulisannya yang sederhana dan mudah dimengerti, tetapi karena memang kisah
hidupnya yang sangat menginspirasi. Menurut ane, buku ini gak kalah kuat dengan
Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Justru kisah Dedi mudah dicerna karena
menggunakan bahasa sederhana dan kisahnya lebih sederhana dibanding denga buku
Andrea yang menggunakan bahasa sains dan kisahnya lebih kompleks dan njlimet.
Meskipun sederhana, dan justru krena sederhana itu, buku ini disukai banyak
kalangan, mulai dari tua hingga remaja yang butuh motivasi dalam hidup. Yaaa,
karena ini buku motivasi. Jika buku Laskar Pelangi mengangkat tidak hanya kisah
Andrea, tetapi juga budaya, lingkungan dan kisah orang sekitar, tapi
Mengejar-ngejar Mimpi ini khusus menceritakan kisah Dedi. Pembaca di ajak untuk
fokus menyelami dunia Dedi yang penuh sengsara, tanpa harus menengok kanan kiri
membahas dunia sekitarnya. Mungkin ini yang membuat novel imi menjadi lebih
kuat isinya. Dedi mampu menyampaikan kisahnya dengan bahasa sederhana dan kocak
serta bab yang saling bersambung membuat pembaca penasara terhadap kisah Dedi
selanjutnya. Dan yang terakhir, yang membuat buku ini dicintai para pengejar
motivasi adalah perjalanan hidupnya yang sulit di percaya dan memberikan motivasi.
Tak seperti kisah Andrea yang hampir semua mimpinya menjadi nyata (kuliah di
Sorbonne University, keliling Eropa, menemukan Edensor), kisah Dedi ini lebih
realistis dan banyak dialami banyak orang, yaitu penuh kegagalan. Mulai dari
kisah cintanya yang kandas, mimpinya kerja di Jepang harus dibuang jauh-jauh,
padahal usaha kerasnya gila-gilaan, dan pernah ingin menjadi mahasiswa. Semua
itu hanya tinggal mimpi. Tapi sungguh, kegigihan dan kekuatan hatinya
menyelamatkan dia dari keterpurukan. Sudah pasti banyak orang mengalami
kegagalan yang berturut-turut, tapi jarang yang bisa segigigh dan seoptimis om
Dedi. Membaca novelnya, membuat kita tak hanya semangat untuk bermimpi dan
menggapai mimpi, tetapi juga relaistis terhadap kegagalan dan yang terpenting
tidak pernah menyerah untuk berusaha hingga encapai kesuksesan, sekalipun label
gagal itu bak sudah melekat dalam diri. Bagi ane, ini sebuah masterpiece, masterpiece bagi seorang yang tak pernah kehilangan semangat, mimpi
dan doanya.
Buat kalian yang belum baca, silahkan baca. Ane yakin
meskipun awalnya mungkin ogah-ogahan, akhirnya kalian gak akan menyesal karena
membacanya. Buat kalian yang butuh motivasi dan semangat hidup untuk terus
memperjuangkan mimpi*seperti ane* kalian wajib baca buku ini.
Buat om Dedi Padiku*siapa tahu baca, hehe* you are the real
Monkeyvator :D
Salam semangat,
Nanda
