Hai
gais.. lama tak bersua di blog. Iya. Kenapa gue males nulis sih? Why? Kenapa gue
gak konsisten banget hadeuh..
Dan
you know? Gue nulis ini justru malah pas dikejar deadline sidang skripsi. Insya
Allah awal minggu depan gue sidang skripsi. Dan gue malah nulis ini. Halah bodo
amatlah. Tulisan dan pemikiran yang muncul ini mungkin suatu saat bakal gue
lupain. Jadi mending sekarang gue tuangkan dalam tulisan aja. Sekalian biar
otak refresh, gak mikir skripsi mulu.
Oke,
ini malem minggu dan kamar kos gue full of kertas dan buku bahan sidang
skripsi. Kepala gue juga dipenuhi dengan semua itu. Tapi ya yang namanya
ENFP, gak mungkin dia itu bisa fokus
sama satu hal. Mesti pikirannya kemana-mana. Ya, begitupun dengan gue. meskipun
tengah dikejar deadline skripsi, gue malah nulis ini wkwk. Jadi tadi tu gue di
kamar mandi lagi bengong gitu, terus teringat sama sinetron 90an yang sangat
hits pada jamannya dan terkenang di hati penggemarnya hingga sekarang. Apalagi kalo bukan Keluarga Cemara. Karena gue kepikiran,
yaudah gue buka beberapa episode awal, karena gue juga udah lupa banget sama
sinetron ini. Maklum, jaman sinetron ini rilis, aku masih umur setahun. Pernah nonton
tahun 2004an kao gak salah. Ya jadi pas habis nonton gue mewek. Iya, mewek. Melihat
tiap sosoknya, mulai dari Abah yang bijaksana, Emak yang gak tegaan, Euis yang
mandiri, Ara yang pinter dan Agil yang centil. Betapa indahnya hidup mereka
pada masa itu. gue bener-bener nangis sampek keluar ingus juga. Duh, bukan
kasian ya, tapi lebih ke kagum dan terharu sama kehidupan sederhana mereka. Mereka
tuh kayak keluarga paket komplit. Abahnya yang begitu bijak dan bersahaja, abah
panutan seluruh ayah di dunia, yang paling bikin nyentuh hati gue. Ara dengan
kepolosannya yang suka bikin trenyuh di hati. Hidu mereka itu sederhana tapi
sempurna. Yaiyalah namanya juga sinteron. Tapi sungguh aktingnya natural
banget, kayak bukan sinetron. Kayak beneran, makanya udah kayak keluarga
sempurna beneran.
Tapi
dunia sekarang udah berbeda jauh dengan masa itu. Sosok yang idealis dan
berprinsip kuat seperti Abah sudah sangat jarang dan bahkan mungkin sudah
punah. Abah yang awalnya keluarga kaya, bangkrut dan akhirnya memilih jadi
tukang becak dan beternak, hidup dengan sangat sederhana. Kadang kasihan juga
sama anak-anaknya yang akhirnya harus menahan keinginannya karena orang tuanya
gak punya uang. Tapi Abah selalu mampu menyampaikan nasehat yang dapat diterima
anaknya sehingga anak-anaknya tumbuh jadi anak baik, jujur dan penurut. Lalu,
adakah sosok Abah macam itu di jaman milenial ini?
Jika
aku mengamati dunia dan manusia di sekitarku, aku akan mengatakan ada tapi sudah
sangat jarang. Apalagi di perkotaan. Banyak orang tua sibuk dengan pekerjaan
masing-maisng dan anak harus di asuh orang lain. Anak kehilangan sosok ayah,
dan merindukan sosok ibu. Kadang aku juga berpikir, kita diciptakan dengan
nafsu untuk bekerja itu agar kita bisa bertahan hidup. Tapi kao gini ceritanya,
bukan lagi kerja untuk hidup tapi hidup untuk bekerja. Tapi sekali lagi itu
opini saya. Opini dari orang yang hanya mengamati dan tidak menjalani.
Sejujurnya
saya ingin sekali ada sosok Abah dalam kehidupan saya nanti. Karena sekarang
alhamdulillah ayah saya adalah sosok Abah di dunia nyata, bukan di film. Kemarin,
gue curhat soal skripsi dan yah ayah pasti kasih nasehat, memotivasi, memberi
saran dan gue nangis karena merasa ini Abah di dunia nyata, Abah terbaik saya.
Lalu
untuk lelaki masa kini: bekerjalah, lalukan yang terbaik, kejar mimpi-mimpimu,
raih kesuksesanmu sedari muda. Hingga suatu saatnya kau akan menikah, kau
memiliki anak, ku minta berikan waktu untuk anakmu. Gendong anakmu sebagaimana
ayahmu dulu menggendong dan menimangmu. Ajaklahbermain pasir di pantai, ajak
beternak atau ajak melakukan hobi-hobi yang kau senangi. Ajak anakmu bertualang
melihat alam dan isinya. Ajari anakmu menjadi pria sejati sepertimu. Jadikan dia
anak yang kuat dan pemberani sepertimu. Kau adalah ayahnya, kau adalah pahlawan
pertama dan terbaik seumur hidupnya.
Pekerjaan
memang penting, karena bagaimanapun kau hendak memenuhi seluruh kebutuhan istri
dan anakmu. Tapi bukankah menjadi ayah adalah pekerjaan paling mulia dan
menyenangkan di dunia?
Salam,
