Baby open your heart
Won’t you give me a
second chance
And I’ll be here
forever
Open your heart
Let me show you how
much I care
And I will make you
understand
If you open your heart
to love me once again
Lagu-lagu lawas grup
legendaris Weastlife mengudara ditengah dingin deretan kafe sekitar bandara Internasional
Toronto. Jilbabku berkibar kedinginan terbawa angin. Aku mempercepat langkah
kaki, tak peduli pada dedaunan maple yang mungin kesakitan karena injakan tak
manusiawiku. Sesekali kulirik jam dipergelangan tangan kiriku yang menciut
dibawah jaket bulu setebal 5 cm. Sedikit
lagi, gumamku. Ku tambah lagi
kecepatan kakiku. Ku terobos semua yang didepanku, ku terjang apapun yang
dihadapanku. Tujuanku hanya satu, pesawat yang akan membawaku terbang ke tanah
air tercintaku, Indonesia.
Pesawat mulai naik dengan
stabil. Aku mengarahkan pandanganku ke luar jendela, deretan gedung pencakar
langit yang seolah say good bye
padaku. Mereka, Si Raja penguasa kota Toronto, menatapku kokoh seolah tak
membiarkan aku pergi. Sikap angkuhnya mengingatkanku pada kali pertama aku
melihatnya setahun lalu. Dari ketinggian yang sama, pada musim yang sama,
dengan perasaan kagum dan tak percaya. Aku terbang ke negara dengan lambang
maple yang terkulai manis sebagai sentral benderanya. Aku menyapa penguasa kota
yang berdiri dengan megahnya. Akupun berlarian di antara maple yang mulai
berguguran di tiap sudut kota. Kau begitu
rapuh, bisikku ketika pertama kali menyentuhnya.
Semua berawal dari sebuah
pengakuan mengejutkan di parkiran sekolah, sepulang acara perpisahan kakak
kelas XII. “Bella, aku menyukaimu. Tapi jangan khawatir. Aku tak mengharapkan
jawabanmu. Aku hanya tak ingin menyesal karena tak mengungkapkannya”. Dia hanya
mengatakan itu lantas pergi meninggalkan seribu pertanyaan yang nyangkut
ditenggorokanku. Untuk beberapa saat jiwaku terbang ke angkasa, mataku tak
berkedip mengikuti punggungnya yang hampir tak tampak. Kak Fiman, kakak kelas
yang tepat satu tahun diatasku. Aku tak percaya dibuatnya. Dia adalah cowok
yang cerdas paling dan populer yang selalu menjadi objek perhatian, korban
kegenitan, dan topik utama biang gosip di seantero sekolah. Mana mungkin dia
menyukaiku yang tak terlalu pintar dan lebih pada “agak bodoh” ini? Tapi aku
tak kehilangan percaya diri. Aku yakin dia benar-benar menyukaiku.
“Good night miss, what
can I do for you? Is there anything to order?” seorang pramugari cantik nan
anggun berdiri disebelahku menyuguhkan senyuman terramahnya.
“No, thanks” ucapku.
Aku kembali menopang dagu memandang ke arah luar jendela. Masih dengan angan
yang tak terbatas tentangnya, satu-satunya alasan kenapa aku sampai disini.
Karena aku ingin sebanding denganya yang kuliah S1 di Kairo. Aku memang seperti
pungguk yang merindukan bulan. Tapi bagiku tidak ada yang tidak mungkin.
Meskipun aku adalah pungguk, aku pikir aku bisa berevolusi menjadi rajawali
atau bahkan garuda. Dalam keadaan tertentu teori Darwin juga sedikit membantu,
meskipun agak konyol jika dibayangkan. Aku benar-benar memperjuangkan apa yang
ku mimpikan. Jika kak Firman telah menginjakkan kakinya di altar suci Universitas
Al-Azhar, setidaknya aku juga menyentuhkan ujung kakiku ini di negeri luar
sana. Dan dengan usaha jungkir balik tak keruan, setamat S1 aku berhasil menapakkan
kaki-kaki mungilku di halaman penuh maple rapuh yang berguguran di Universitas
Toronto, musim gugur lalu.
Kau tahu rasanya?
Menakjubkan. Cinta yang berawal di parkiran sekolah itu membawaku hingga
kesini. Setetes embun harapan yang begitu menyegarkan telah diberikan kak
Firman padaku, membangkitkan seluruh gairah dan anganku untuk bermimpi. Aku
menyukainya. Dengan menyukainya, aku mampu melawan seluruh keraguan dan
kekhawatiran. Dengan menyukainya, aku mampu merobohkan dinding pembatas dalam
diriku. Dengan menyukainya, aku tak takut menggantungkan seluruh angan dalam
asaku. Cinta yang dia ungkapkan dulu memang semu, tapi tidak dengan semangat
yang ia curahkan. Karena hanya dengan menyukainya, akupun tahu bagaimana aku
harus bertahan hidup dalam tiap-tiap kenyataan buruk yang kapanpun bisa
membunuhku. Dan kak Firman, semangatnya, mampu membuatku terus bertahan hidup
dalam kesendirian. Semangatnya adalah sinar yang tak pernah redup, memberiku
harapan meski aku dirundung kesepian yang teramat dalam.
“Besok aku akan
berangkat ke Kairo” katanya dengan begitu tenang.
“Maaf aku tidak bisa
mengantar. Tapi jika nanti kau pulang, kabari aku. Aku akan menjemputmu di
bandara.” Kata-kata bodoh yang tak pernah bisa ku lupakan. Harusnya aku
mengungkapkan perasaanku, tapi justru janji bodoh itu yang terucap oleh lidah
tak bertulang milikku. Kata-kata bodoh yang menutupi seluruh sembilu dalam hati
kala itu. Tapi dia hanya tersenyum dan membuatku ternganga untuk kesekian kali.
“Baiklah. Janji ini
juga berlaku untukmu. Jika nanti kamu kuliah ke luar negeri, biar aku yang
menjemputmu di bandara” sebuah janji yang terangkai manis dalam ingatanku.
Mengoyak seluruh ketenangan, meleburkan kesedihan. Dia meyakinkanku, seolah dia
juga menunggu dan menantikan. Dia membuatku berkahayal seolah perpisahan itu
hanya beberapa jam. Dia adalah akar dari kesedihan, racun dari perihnya
kerinduan, tapi dia jua penawar yang menetralkan seluruh kesakitan. Semoga dia
mengingat janji itu hingga hari ini.
Klak.....
lagi-lagi suara membuyarkan seluruh lamunanku. Kali ini hapeku terjatuh. Ku
ambil benda mungil itu, ku buka lock
screennya. Foto tiga anggota keluargaku memenuhi layar. Adik perempuanku
diapit oleh ayah dan ibu. Kebahagiaan terpancar begitu nyata. Adikku terlihat
begitu anggun dan manis dengan kebaya warna putih dan hijab yang di kelilingi
renda dan kristal-kristal yang memancarkan kilau putih. Jari manisnya terlihat
mencolok dengan cincin emas yang kini melingkar. Ya, adik yang dua tahun
dibawahku menikah satu bulan yang lalu. Aku sudah berencana untuk pulang
sebelum ijab qobulnya. Tapi apa daya, risetku tiba-tiba mengalami masalah
hingga aku harus menunda kepulanganku sampai hari ini. Selama sebulan penuh
kemarin aku tenggelam dalam risetku. Hampir 24 jam setiap harinya aku berada di
laboratorium untuk mengurus riset yang membuatku hampir gila. Karena tak ingin
mengganggu, adikku hanya mengirim satu foto yang langsung ku jadikan wallpaper hp untuk menyemangatiku. Aku maklum juga jika
adikku tak mengirim fotonya dengan suami. Mungkin dia agak sungkan denganku
karena melangkahi kakaknya yang isi otaknya cuman kuliah dan penelitian. Akupun
tak terlalu ambil pusing soal foto. Yang terpenting saat itu hanya riset dan
kepulanganku yang tak boleh ku tunda lagi. Aku ingin hadir di resepsi adikku
yang dilaksanakan sebulan setelah ijab qobul, tepatnya 3 hari mendatang. Dia
adalah adik yang sangat kusayangi. Adik yang berbakti dan tak egois sepertiku.
Dia jauh lebih pintar dariku. Tapi dia tak ambil pusing soal tempat kuliah. Dia
cukup terima ketika harus kuliah di Semarang, “biar tetep bisa menjaga ayah dan
ibu,” katanya. Berbeda denganku, yang keukeuh dengan motto Carilah Ilmu Walau Ke Negri China. Dia sosok taat agama, apapun
aturan agama ia kerjakan semaksimal dia bisa. Tak sepertiku yang masih sering
tidak konsisten dalam menjalankan aturanNya yang menurutku masih “berat” untuk
ku laksanakan.
Aku celingukan mencari
adikku yang masih belum kudapati batang hidungnya ditengah-tengah keramaian
bagian arrival Bandara Achmad Yani.
Tiba-tiba mataku terpaku pada sesosok laki-laki jangkung dengan jaket berwarna
biru tua yang kulihat dari samping. Napasku tercekat. Jantungku berdegup seribu
kali lebih cepat, kepalaku tiba-tiba saja pusing, ototku melemas, urat nadi
serasa terputus hingga barang bawaanku hampir terjatuh. Allah, nyatakah ini? Diakah itu? Engkau ijabahikah doa yang tak
terputus selama lima tahun ini?
“Bella.....” panggilan
itu, sapaan itu, senyuman itu, dia melangkah ke arahku sangat cepat. Dan perlahan
tapi pasti, kami semakin dekat. Kini jarak bermil-mil dulu berubah tak lebih
dari satu meter. Tiba-tiba sekujur tubuhku menjadi kaku, perutku mulas, hatiku
bergetar tak keruan, dan parahnya refleksku hilang. Aku ingin menyapanya. Tapi tubuhku
mulai kurang ajar. Dia tak menghiraukan perintah tuannya. Napasku masih tak
beraturan. Perlahan ku kendalikan diriku. Ku dongakkan kepalaku untuk memandang
wajahnya, menatap matanya.
“Kakak..” suara yang
tak asing bagiku mengalihkan seluruh perhatianku. Dia Mengembalikan sebagian kesadaranku.
Tubuh kecil itu berlari ke
arahku dan memelukku seketika, sangat erat. “Kak, Zahra kangen
banget sama kakak” sedunya. Tiba-tiba bulir hangat keluar membungkus pipiku.
Aku merindukannya, tubuh mungil penuh kehangatan ini.
“Kak, kenalkan, ini Mas
Firman, suamiku.” Dan untuk yang kesekian kalinya napasku tercekat. Jantungku
diremas dengan kekuatan super, ngilu. Hatiku disayat-sayat setipis preparat,
perih. Semoga Zahra tak tahu arti air mata yang kini makin deras membasahi pipiku.
Aku memaksakan senyuman, getir. Aku tersambar petir, suara halus itu membuatku hancur berkeping-keping.
Langit asaku runtuh seketika. Duniaku berhenti berputar saat itu juga.
“Yaudah, ayo kak kita
pulang. Biar Mas Firman yang bawain kopernya.” Suara adikku masih bak petir
susulan. Panggilan itu memberi efek menyakitkan bagi telingaku. Mereka berjalan
berdampingan, tepat didepanku. Seorang yang menjadi alasanku membangun asa, ia
pula yang meruntuhkan. Seorang yang menjadi pondasi mimpiku, kini telah
mengokohkan kehidupan adikku. Dia yang dulu pernah berjanji, ternyata hanya
sekedar menepati tanpa membawa secuwilpun hati. Seluruh hati dan jiwanya telah
dimiliki adikku semata. Dia telah berubah, jauh lebih dewasa dari sebelumnya.
Dia memilih wanita yang tepat sebagai pendamping hidupnya.
Kini
aku paham, kata cinta yang tertunda lima tahun lalu itu tak kan pernah
terungkapkan. Biar saja ku pendam. Setelah lima tahun memendamnya, aku akan
terbiasa kan? Aku harus mampu terbiasa menahan segala rasa, amarah dan kecewa
untuk kesekian
kali. Sepi, sendiri dan luka hati, biar kuhadapi seorang diri.
Selamat menempuh hidup baru masa remajaku, penabur
segala benih mimpi….