Minggu, 02 April 2017

Totto-chan : Laskar Pelangi-nya Jepang

Aaaaaaahh............... Petjaaaahhh benar-benar pecaaahhh...
Buku ini keren gilak... keren gak abis-abis. Buku yang membuat sejarah di dunia penerbitan di Jepang. Telah diterjemahkan ke berbagai macam bahasa. Menjadi rujukan siswa dan guru di sekolah. Judul lengkapnya adalah “Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela”
Buat kalian yang udah baca, sadar gak kalo buku ini mirip dengan salah satu buku di negara kita yang juga mengukir sejarah di dunia sastra Indonesia? Yup. Buku siapa lagi kalo bukan bukunya Andrea Hirata. Yang karena buku ini, Bangka Belitung –latar dari cerita buku-- menjadi terkenal di seluruh dunia.
Buku ini hampir mirip dengan buku pertamanya Andrea Hirata tersebut. maksudnya mirip disni bukan berarti jiplak atau plagiat loh ya. Tapi kisah yang ada didalam cerita ini yang mirip. wong buku ini ditulis jauh sebelum Laskar Pelangi lahiran kok :D
Lalu siapa penulis buku Totto-chan ini? Penasaran? Pasti.
Buku ini ditulis oleh seorang aktris internasional asal Jepang bernama Tetsuko Kuroyanagi. Buku ini ditulis olehnya pertama kali pada tahun 1982. Sungguh? Saya juga ternganga pas bacanya. Tapi begitulah kenyataannya. Fakta bahwa buku ini ditulis ketika ibu saya masih kanak-kanak dan saya masih menemukannya ketika usia saya sudah 20+ membuat saya bersyukur. Saya yakin, ini adalah kuasa Tuhan untuk mengenalkan saya dengan Kuroyanagi-san lewat bukunya yang hebat ini. Tuhan memperkenalkan saya pada salah satu sosok hebat melalui latar belakang masa lalunya yang sungguh menginspirasi. Semua melalui buku yang ditulis Tetsuko Kuroyanagi dengan penuh perasaan ini.
Menjadi buku best seller dengan tingkat penjualan mencapai 4.500.000 buku dalam setahun tentu menjadi indikasi bahwa buku ini bukan buku sembarangan. Lalu buku apa ini? hingga mencetak rekor segitu? Apa yang ditulis Kuroyanagi-san didalamnya?
Baiklah, karena saya telah mengkhatamkannya, saya akan cerita sedikit. Jadi “Totto-chan” ini bercerita tentang masa kanak-kanak Kuroyanagi-san sendiri. Didalam buku ini seluruh kisahnya adalah nyata. Tanpa ditambahi bumbu apapun termasuk ajinomoto atauppun masako. Kalo dikurangi sih banyak, karena beliau bilang banyak yang terlupa  tentang masa itu. Tapi seluruh rangkaian kenangan yang ia ceritakan dalam buku ini sudah cukup membangun imajinasi pembacanya. Apa yang ingin di ungkapkan Kuroyanagi-san untuk pembaca lewat buku ini sudah tersampaikan, saya yakin. Cerita dalam buku ini dimulai ketika Totto-chan alias Kuroyanagi-san dikeluarkan dari sekolahnya ketika masih kelas satu SD. Bukan karena perkelahian ala anak alay. Bukan karena melanggar norma. Semua hanya karena dia nakal. Ya, dia nakal sehingga harus dikeluarkan dari sekolah. Separah itukah? Sayangnya iya. Dia tidak pernah mendengarkan penjelasan guru, bermain sendiri ketika pelajaran berlangsung, berbicara dengan hewan di luar kelas melalui jendela ketika guru memberi pelajaran. Karena lelah menghukumnya dan tak pernah jera, gurunya menyerah. Gurunya tidak bertindak lebih lanjut asalkan Totto-chan tidak mengganggu temannya ditengah pembelajaran. Itu saja sudah cukup. Namun tingkah Totto-chan tidak berhenti disitu. Nyatanya ia melakukan sesuatu yang membuat gurunya harus mengambil tindakan tegas. Bagaimana tidak? Selama pembelajaran Totto-chan hanya memandang ke arah jendela. Ngapain coba? Orang dewasa pasti memarahinya kalo melihat ini. Dia memandang keluar jendela untuk menunggu para pemusik jalanan. Ketika pemusik jalanan itu benar-benar lewat, Totto-chan memanggilnya untuk mendekat dan menyuruh memainkan musiknya didekat jendela kelas. Karena ulahnya ini, anak-anak selekasnya yang keponya kebangetan pun mengikuti Totto-chan menikmati alunan musik dari musisi jalanan itu. Pembelajaran dikelas terhenti. Gurunya muntab. Orang tua Totto-chan dipanggil ke sekolah dan Totto-chan dikeluarkan. Namun ibu Totto-chan tidak menceritakan hal ini pada anaknya. Ia hanya berkata bahwa Totto-chan akan bersekolah di sekolah yang baru. Dan di awal musim semi, Ibu Totto-chan menggandeng anaknya dengan penuh kasih sayang hingga didepan sebuah sekolah dengan gerbang yang hidup dan berdaun, Tomoe Gakuen.
Intisari dari buku ini adalah kisah perjalanan masa kecil Totto-chan di Tomoe Gakuen ini, sekolah yang amat berbeda. Dilihat dari segala halnya sungguh berbeda dari sekolah lain. Mulai dari seragamnya yang bebas alias tak ditentukan, kemudian ruang kelasnya yang terdiri dari deretan gerbong kereta api, hingga jam istirahat yang lebih panjang dibanding sekolah lainnya. Tomoe Gakuen adalah sekolah non-konvensional di Jepang sehingga bebas menerapkan segala peraturannya. Satu lagi yang menjadi ciri khas Tomoe Gakuen adalah tidak ada jadwal pelajaran. Yang ada adalah guru menulis daftar soal di papan tulis dan berkata “Sekarang, mulailah dengan salah satu dari ini. Pilih yang kalian sukai”. Jadi setiap siswa mengerjakan tugas yang berbeda-beda. Yang suka mengarang langsung menulis sesuatu dibukunya, sedangkan siswa yang suka fisika sibuk merebus sesuatu di tabung reaksi diatas pembakar spiritus. Asal tahu saja, di ruang kelas alias gerbong kelas 1 SD itu sudah biasa terdengar suara letupan-letupan kecil sebagai reaksi dari percobaan yang dilakukan salah satu siswanya. Dan gue kenal tabung rekasi pas SMA, sungguh malu rasanya.
Bagaimana? Diteruskan sinopsisnya atau sampai sini saja? O iya. Pasti penasaran dengan seseorang dibalik berdirinya sekolah ini. Namanya adalah Sosaku Kobayashi. Di halaman awal buku inipun tertulis bahwa buku ini didedikasikan untuk mengenang beliau. Yap, beliaulah jantung dari Tomoe Gakuen ini. beliau yang membangun Tomoe Gakuen dari nol dengan uangnya sendiri. Dan “berbeda”nya sekolah ini juga karena kecintaannya pada anak-anak dan kepeduliannya pada pendidikan anak. Beliau membiarkan anak didiknya tumbuh sebagaimana mestinya. Mendukung seluruh siswanya tumbuh seperti apa yang mereka inginkan. Anak-anak tidak boleh dipaksa tumbuh sesuai pribadi yang sudah digambarkan.
“Serahkan mereka pada alam” begitu kata beliau. Sehingga tak heran jika di Tomoe Gakuen sering diadakan jalan-jalan –yang sebenarnya sebuah cara untuk menyampaikan suatu materi pelajaran. Mr. Sosaku Kobayashi tidak hanya mengajarkan apa itu sains, atau apa itu sastra. Tapi juga bagaimana anak itu sebaiknya bersikap terhadap sesamanya. Bagaimana saling membantu antar teman hingga titik puncak kemampuan mereka. Hingga bagaimana mengalah dengan ikhlas demi kepentingan orang lain. Ya di usia segitu. Dan itu berhasil, sungguh berhasil. Anda akan tahu sendiri keajaiban-keajaiban yang diciptakan Mr. Kobayashi ketika anda membaca bukunya. Segala sesuatu telah ia rencanakan demi kemajuan anak didiknya. Tapi anak-anak SD yang masih polos itu tak pernah mengetahuinya. Mereka baru memahami maksud gurunya itu berpuluh-uluh tahun kemudian.
O iya, jika latar novel Laskar Pelangi adalah masa jayanya penambangan Timah di Babel sekitar tahun 70-an, jika novel ini berlatar di Tokyo sekitar tahun 1940-an hingga tahun 1945. Yes, ketika pecahnya perang Asia Pasifik dimana ketika itu Hiroshima-Nagasaki luluh lantah oleh bom nuklir Amerika.
Bagaimana? Mirip dengan cerita di novel Andrea Hirata kan? Sama-sama menceritakan hebatnya masa lalu seseorang yang sukses di masa kini. Dan itu tak lepas dari peran guru sekolah dasarnya. Guru dengan dedikasi yang tinggi pada pendidikan. Guru yang amat mencintai murid-muridnya. Guru yang selalu ingin memberikan yang terbaik selama ia bisa. Itulah Ibu Mus (Laskar Pelangi) dan Mr. Kobayashi (Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela). Kedua figur ini begitu berarti dan istimewa di mata seluruh siswanya. Keduanya berhasil melahirkan orang-orang penting di masa kini. Sungguh sosok pendidik yang hebat dan  berdedikasi tinggi.
Akhir dari celotehan saya kali ini adalah : saya sangat anjurkan anda untuk membaca bukunya. Apalagi calon guru dan calon orang tua. Cara mendidik Mr. Kobayashi ini sangat patut untuk ditiru seluruh orang tua di segala penjuru dunia. Selamat membaca dan selamat menjadi inspirasi berikutnya!
“Jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi dari pada cita-cita kalian” Mr. Sosuke Kobayashi (1893-1963)