Aaaaaaahh...............
Petjaaaahhh benar-benar pecaaahhh...
Buku ini keren gilak...
keren gak abis-abis. Buku yang membuat sejarah di dunia penerbitan di Jepang. Telah
diterjemahkan ke berbagai macam bahasa. Menjadi rujukan siswa dan guru di
sekolah. Judul lengkapnya adalah “Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela”
Buat kalian yang udah
baca, sadar gak kalo buku ini mirip dengan salah satu buku di negara kita yang
juga mengukir sejarah di dunia sastra Indonesia? Yup. Buku siapa lagi kalo
bukan bukunya Andrea Hirata. Yang karena buku ini, Bangka Belitung –latar dari
cerita buku-- menjadi terkenal di seluruh dunia.
Buku ini hampir mirip
dengan buku pertamanya Andrea Hirata tersebut. maksudnya mirip disni bukan
berarti jiplak atau plagiat loh ya. Tapi kisah yang ada didalam cerita ini yang
mirip. wong buku ini ditulis jauh sebelum Laskar Pelangi lahiran kok :D
Lalu siapa penulis buku
Totto-chan ini? Penasaran? Pasti.
Buku ini ditulis oleh
seorang aktris internasional asal Jepang bernama Tetsuko Kuroyanagi. Buku ini
ditulis olehnya pertama kali pada tahun 1982. Sungguh? Saya juga ternganga pas
bacanya. Tapi begitulah kenyataannya. Fakta bahwa buku ini ditulis ketika ibu
saya masih kanak-kanak dan saya masih menemukannya ketika usia saya sudah 20+
membuat saya bersyukur. Saya yakin, ini adalah kuasa Tuhan untuk mengenalkan
saya dengan Kuroyanagi-san lewat bukunya yang hebat ini. Tuhan memperkenalkan
saya pada salah satu sosok hebat melalui latar belakang masa lalunya yang sungguh
menginspirasi. Semua melalui buku yang ditulis Tetsuko Kuroyanagi dengan penuh
perasaan ini.
Menjadi buku best
seller dengan tingkat penjualan mencapai 4.500.000 buku dalam setahun tentu
menjadi indikasi bahwa buku ini bukan buku sembarangan. Lalu buku apa ini?
hingga mencetak rekor segitu? Apa yang ditulis Kuroyanagi-san didalamnya?
Baiklah, karena saya
telah mengkhatamkannya, saya akan cerita sedikit. Jadi “Totto-chan” ini
bercerita tentang masa kanak-kanak Kuroyanagi-san sendiri. Didalam buku ini
seluruh kisahnya adalah nyata. Tanpa ditambahi bumbu apapun termasuk
ajinomoto atauppun masako. Kalo dikurangi sih banyak, karena beliau bilang
banyak yang terlupa tentang masa itu.
Tapi seluruh rangkaian kenangan yang ia ceritakan dalam buku ini sudah cukup
membangun imajinasi pembacanya. Apa yang ingin di ungkapkan Kuroyanagi-san
untuk pembaca lewat buku ini sudah tersampaikan, saya yakin. Cerita dalam buku
ini dimulai ketika Totto-chan alias Kuroyanagi-san dikeluarkan dari sekolahnya
ketika masih kelas satu SD. Bukan karena perkelahian ala anak alay. Bukan
karena melanggar norma. Semua hanya karena dia nakal. Ya, dia nakal sehingga
harus dikeluarkan dari sekolah. Separah itukah? Sayangnya iya. Dia tidak pernah
mendengarkan penjelasan guru, bermain sendiri ketika pelajaran berlangsung,
berbicara dengan hewan di luar kelas melalui jendela ketika guru memberi
pelajaran. Karena lelah menghukumnya dan tak pernah jera, gurunya menyerah.
Gurunya tidak bertindak lebih lanjut asalkan Totto-chan tidak mengganggu
temannya ditengah pembelajaran. Itu saja sudah cukup. Namun tingkah Totto-chan
tidak berhenti disitu. Nyatanya ia melakukan sesuatu yang membuat gurunya harus
mengambil tindakan tegas. Bagaimana tidak? Selama pembelajaran Totto-chan hanya
memandang ke arah jendela. Ngapain coba? Orang dewasa pasti memarahinya kalo
melihat ini. Dia memandang keluar jendela untuk menunggu para pemusik
jalanan. Ketika pemusik jalanan itu benar-benar lewat, Totto-chan memanggilnya
untuk mendekat dan menyuruh memainkan musiknya didekat jendela kelas. Karena
ulahnya ini, anak-anak selekasnya yang keponya kebangetan pun mengikuti
Totto-chan menikmati alunan musik dari musisi jalanan itu. Pembelajaran dikelas
terhenti. Gurunya muntab. Orang tua Totto-chan dipanggil ke sekolah dan
Totto-chan dikeluarkan. Namun ibu Totto-chan tidak menceritakan hal ini pada
anaknya. Ia hanya berkata bahwa Totto-chan akan bersekolah di sekolah yang
baru. Dan di awal musim semi, Ibu Totto-chan menggandeng anaknya dengan penuh
kasih sayang hingga didepan sebuah sekolah dengan gerbang yang hidup dan
berdaun, Tomoe Gakuen.
Intisari dari buku ini
adalah kisah perjalanan masa kecil Totto-chan di Tomoe Gakuen ini, sekolah yang
amat berbeda. Dilihat dari segala halnya sungguh berbeda dari sekolah lain.
Mulai dari seragamnya yang bebas alias tak ditentukan, kemudian ruang kelasnya
yang terdiri dari deretan gerbong kereta api, hingga jam istirahat yang lebih
panjang dibanding sekolah lainnya. Tomoe Gakuen adalah sekolah non-konvensional
di Jepang sehingga bebas menerapkan segala peraturannya. Satu lagi yang menjadi
ciri khas Tomoe Gakuen adalah tidak ada jadwal pelajaran. Yang ada adalah guru
menulis daftar soal di papan tulis dan berkata “Sekarang, mulailah dengan salah
satu dari ini. Pilih yang kalian sukai”. Jadi setiap siswa mengerjakan tugas
yang berbeda-beda. Yang suka mengarang langsung menulis sesuatu dibukunya,
sedangkan siswa yang suka fisika sibuk merebus sesuatu di tabung reaksi diatas
pembakar spiritus. Asal tahu saja, di ruang kelas alias gerbong kelas 1 SD itu
sudah biasa terdengar suara letupan-letupan kecil sebagai reaksi dari percobaan
yang dilakukan salah satu siswanya. Dan gue kenal tabung rekasi pas SMA,
sungguh malu rasanya.
Bagaimana? Diteruskan
sinopsisnya atau sampai sini saja? O iya. Pasti penasaran dengan seseorang
dibalik berdirinya sekolah ini. Namanya adalah Sosaku Kobayashi. Di halaman
awal buku inipun tertulis bahwa buku ini didedikasikan untuk mengenang beliau.
Yap, beliaulah jantung dari Tomoe Gakuen ini. beliau yang membangun Tomoe
Gakuen dari nol dengan uangnya sendiri. Dan “berbeda”nya sekolah ini juga
karena kecintaannya pada anak-anak dan kepeduliannya pada pendidikan anak.
Beliau membiarkan anak didiknya tumbuh sebagaimana mestinya. Mendukung seluruh
siswanya tumbuh seperti apa yang mereka inginkan. Anak-anak tidak boleh dipaksa
tumbuh sesuai pribadi yang sudah digambarkan.
“Serahkan mereka pada
alam” begitu kata beliau. Sehingga tak heran jika di Tomoe Gakuen sering
diadakan jalan-jalan –yang sebenarnya sebuah cara untuk menyampaikan suatu
materi pelajaran. Mr. Sosaku Kobayashi tidak hanya mengajarkan apa itu sains,
atau apa itu sastra. Tapi juga bagaimana anak itu sebaiknya bersikap terhadap
sesamanya. Bagaimana saling membantu antar teman hingga titik puncak kemampuan
mereka. Hingga bagaimana mengalah dengan ikhlas demi kepentingan orang lain. Ya
di usia segitu. Dan itu berhasil, sungguh berhasil. Anda akan tahu sendiri
keajaiban-keajaiban yang diciptakan Mr. Kobayashi ketika anda membaca bukunya.
Segala sesuatu telah ia rencanakan demi kemajuan anak didiknya. Tapi anak-anak
SD yang masih polos itu tak pernah mengetahuinya. Mereka baru memahami maksud
gurunya itu berpuluh-uluh tahun kemudian.
O iya, jika latar novel
Laskar Pelangi adalah masa jayanya penambangan Timah di Babel sekitar tahun
70-an, jika novel ini berlatar di Tokyo sekitar tahun 1940-an hingga tahun
1945. Yes, ketika pecahnya perang Asia Pasifik dimana ketika itu
Hiroshima-Nagasaki luluh lantah oleh bom nuklir Amerika.
Bagaimana? Mirip dengan
cerita di novel Andrea Hirata kan? Sama-sama menceritakan hebatnya masa lalu seseorang
yang sukses di masa kini. Dan itu tak lepas dari peran guru sekolah dasarnya.
Guru dengan dedikasi yang tinggi pada pendidikan. Guru yang amat mencintai
murid-muridnya. Guru yang selalu ingin memberikan yang terbaik selama ia bisa.
Itulah Ibu Mus (Laskar Pelangi) dan Mr. Kobayashi (Totto-chan : Gadis Cilik di
Jendela). Kedua figur ini begitu berarti dan istimewa di mata seluruh siswanya.
Keduanya berhasil melahirkan orang-orang penting di masa kini. Sungguh sosok
pendidik yang hebat dan berdedikasi
tinggi.
Akhir dari celotehan
saya kali ini adalah : saya sangat anjurkan anda untuk membaca bukunya. Apalagi
calon guru dan calon orang tua. Cara mendidik Mr. Kobayashi ini sangat patut
untuk ditiru seluruh orang tua di segala penjuru dunia. Selamat membaca dan
selamat menjadi inspirasi berikutnya!
“Jangan
patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi dari pada cita-cita
kalian” Mr. Sosuke Kobayashi (1893-1963)
