Bikin gelisah? Mana ada anugerah yang bikin gelisah? Bukannya anugerah itu selalu indah? Well, anugerah emang selalu indah, gue aja yang gelisah.
Oke, sebelum kita
bahasa mengapa ENFP itu anugerah yang bikin gelisah, gue jelasin dulu apa itu
ENFP. Let’s check. Dan karena pengetahuan gue yang seuprit tentang apa itu ENFP,
jadi nyari aja sendiri di eyang gugel, okey?? *di kepruk orang sekampung*
Baiklah, kalo gitu. Agar
kalian bisa hemat kuota, gue jelasin dah seuprit yang gue tahu itu. Jadi ENFP
adalah.......jeng jeng jeng......
ENFP adalah singkatan yang digunakan untuk menyebut salah satu dari 16 Jenis
Kepribadian yang dikategorikan dalam Intrumen Tes Kepribadian MBTI
(Myers-Birggs Type Indicator). Jadi tes MBTI ini sekarang lagi booming di
negara-negara maju dan berkembang. MBTI menjadi salah satu tes yang digunakan
negara-negara besar buat ngrekrut karyawan baru. Dan elo belum pernah tes MBTI?
Mending lo tutup dulu page ini. Kemon deh cari di eyang gugel lagi tentang tes
mbti. Download dan temukan apa kepribadianmu *maap,aku bukan lagi promosi*
Yup,
ENFP adalah kepanjangan dari Extraversion, Intuition,
Feeling, Perception).
Dengan definisi sebagai
berikut :
- E – Extraversion: Mereka biasanya merasa termotivasi melalui interaksi dengan orang lain. Mereka cenderung untuk menikmati jaringan perkenalan yang luas, dan mereka mendapatkan energi dalam situasi sosial.
- N – Intuition: cenderung lebih abstrak. Mereka fokus pada gambaran besar daripada detail, dan kemungkinan masa depan daripada realitas yang ada.
- F – Feeling: cenderung menghargai pertimbangan pribadi dalam mengambil keputusan. Umumnya mereka sering lebih mengutamakan implikasi sosial daripada logika.
- P – Perception: Cenderung menahan pendapat dan menunda keputusan, lebih memilih untuk “menjaga pilihan mereka tetap terbuka” sehingga dapat berubah sesuai kondisi.
Dan kenapa
saya membahas ENFP? Bukan INFP, INTJ, ESFP? Ya karena setelah saya ikut tes
MBTI, tipe kepribadian saya adalah ENFP yeeeeaaaaayyyyy *muterin wc 100x*.
ENFP itu
ekstrovert? Bagaimana dengan saya?
Ya, karena
saya begitu memuja hasil tes ini saya setuju! Saya seorang yang suka dengan
interaksi sosial. Saya senang mengenal orang-orang baru. Walau sekedar
berkenalan dan berbincang di dalem bis
dengan orang asing beberapa jam, saya suka. Meskipun saya tidak selalu begitu. Orang
yang duduk di sebelah saya di bis itu random banget. Kadang mbak-mbak cantiks
nan alay, mas-mas ganteng, emak-rempong nan ramah, bahkan kakek-kakek yang baru
semenit duduk langsung ngorok. Dari seluruh pengelompokan itu saya lebih suka ngobrol
sama emak-emak sama mbah uti-uti yang ramah. Bukan mbak-mbak? Bukan mas-mas? Itung-itung
bisa dijadiin gebetan. Emak-emak atau mbah uti-uti selalu enak di ajak
ngobrol, ramah dan kita sering nyambung. Kalo sama embak-embak, kadang mereka
sering cuek. Gue suka berada ditempat baru dimana gue bisa punya banyak temen. Meski
di awal gue selalu merasa kurang nyaman, tapi selalu berakhir dengan obrolan
yang gak henti. Dan lebih banyak gue yang ngomong. Mohon dimaklumi. Meskipun begitu,
bukan berarti gue gak betah sendiri. buktinya gue betah-betah aja tuh jomblo
bertahun-tahun. Bagi gue, ENFP itu spesial. Kenapa? Karena ENFP adalah
satu-satunya ekstrovert yang masih butuh waktu untuk sendiri. Bahkan bagi gue,
butuh banyak waktu untuk sendiri. Ada saatnya gue gak suka bising, gak suka
rame dan bahkan gak suka ngobrol sama banyak orang. Hingga terkadang gue ragu? Benarkah
aku Ekstrovert? Hingga akhirnya gue menyelami dalamnya laut diri gue
sendiri dan gue kembali yakin bahwa gue ini ekstrovert. Salah satunya adalah
gue gak terlalu nyaman dengan sesama ekstrovert. Bagi gue ekstrovert itu
berisik. Bener-bener gue gak sadar diri. Ya, tapi begitulah kenyataannya. Gue lebih
suka ngobrol dimana gue yang mendominasi cerita, bukannya mereka hahaha. Ketika
gue denger ekstrovert yang ke-ekstrovert-annya *bahasa macam apa ini* stadium
akhir, gue akhirnya yang diam. Apalagi kalo gue kumpul sama ekstrovert papan
atas, gue udah kayak shaun the sheep di tengah ladang babi. Tahu sendiri kan
berisiknya kek apa? Pengen cepet keluar dari area perbabian itu. Yah, ini;ah
salah satu kegelisahan gue. Gue ini ekstrovert tapi kok ya masih susah ngadepin
sesama spesiesnya.
ENFP itu
intuisinya yang di gedhein, alias dia perasa. Benarkah?
Menurut MBTI, seorang ENFP
itu memutuskan sesuatu berdasarkan perasaa, imajinasi dan pikirannya sendiri
bukan berdasarkan fakta, logika atau apa yang ia lihat. Dan menurutku sendiri
itu memang benar. Gak ada meleset-melesetnya dari aku hahaha. Aku ini orangnya
perasa banget nget. Aku gampang merasa kasihan sama orang. Gampang dibuat
menangis hanya karena video nenek tua yang tinggal sebatang kara. Gampang mewek
pas liat video ada anak alay yang jahatin kakek-kakek. Mellow tingkat dewa aku
ini. Kadang dalam hal interaksi sama orang lainpun perasaan ini selalu terbawa
(?) Pas ada orang yang abis ngerjain sesuatu atau ngobrol bareng sama aku,
terus ada yang gak bener dikit langsung dah aku merasa bersalah. Apalagi kalo orang
tadi tiba-tiba pergi atau cuek sama aku, aku langsung yakin kalo orang tadi
marah sama aku. Itu sering banget terjadi pas aku bertengkar ala anak alay sama
pacar aku dulu *flashback sambil ngambil tisu*. Kalo aku merasa dia ada salah,
aku langsung bilang. Nyerocos tapi lewat chat. Negtik ambek jemariku keriting
seminggu. Dan ketika udah aku send, ku baca sampai kali keseribu. Aku merasa
keterlaluan atas tingkah atau ucapanku. Aku merasa bersalah. Aku minta maaf. Sono
maafin. Plis deh, tadi yang salah siapa yang minta maaf siapa??? Mengapa hatiku
bisa selemah dan seperasa ini?? Kalo aku didiemin aku merasa gak disukai. Gak diajak
ngobrol ngerasa dijauhi. Kalo tetiba di cuekin aku ngerasa diriku ini udah gak
asik lagi *jangan nyanyi plis*. Susah deh pokoknya. Diriku ini meskipun ceria
setiap waktunya tapi juga bisa mellow yang sedalem-dalemnya. Sukanya mikir
jelek ya? Apa-apa yang gak terpikirkan sama kalian, kami bisa kepikiran. Masih mending
kalo itu pikiran baik. Lha ini pikiran jelek mulu yang digedhein.. Iya begitulah
diriku dan para enfp lainnya. Mohon di maklumi sekali lagi yaa...
ENFP itu
perasa pakek banget.
Ya seperti
yang udah aku tulis diatas. Kami itu merasakan sesuatu yang tak kalian rasakan
*bukan gombal*. Terkadang ketika kalian mengatakan sesuatu, kami berpikir ada
sesuatu dibalik sesuatu yang kalian katakan itu. Dibalik kalian melakukan ini
ada sesuatu lagi. Bahkan aku bisa merasakan sesuatu dari caption atau status
sosmed kalian. Yang padahal kalian tujukkan untuk orang lain, kami bisa merasakan
bahwa itu nyindir kita *parah kan ya?*. satu hal yang merugikan mungkin. Menurut
saya, perasa gak selalu dalam hal buruk. Contohnya saja dalam hal percintaan. Ketika
ada yang deket dan suka ngechat kita, kita ngerasanya dia suka karena perhatian,
dan kenyataanya dia menganggap kita hanya teman. Sakit gak sih? Eh ini
tetep buruk ya? Maafkan. Intinya ENFP itu terkadang suka keGRan hahahaha...
ENFP itu
random dalam hidupnya.
Kita para
ENFP adalah orang yang gak suka di atur-atur. Apalagi peraturannya gak jelas. Pengalaman
aja sih, gue ini pernah jadi mahasiswa terbandel seangkatan di jurusan gue
gegara gak nurut apapun kata senior. Temen gue marah habis-habisan karena gue
gak ngerjain tugas dari mereka yang menurut gue gak jelas. Hingga akhirnya
temen seangkatan gue dapet ancaman dari senior. You know ancamannya? Kalo kita
gabisa dapetin tanda tangan senior Hima itu dalam waktu seminggu, kita harus
beli kambing buat kurban. Akhirnya gue luluh. Bukan takut ancamannya. Sama sekali
bukan. tapi temen gue ketakutan sama ancaman itu sampek-sampek mau lari kesana
sini buat minta ttd senior di buku gue. gue gak tega. Akhirnya buku gue ambil
dan gue minta ttd sendiri. begitulah gue sebagai ENFP. Hidup gue juga gak
teratur. Gue pengen sih punya jadwal kek temen gue. udah gue buat dan banyak
gak gunanya *RIP jadwal para ENFP*. ENFP itu fleksibel sekalii. Suka nunda
kerjaan dan tugas yang bahkan rutin. Gue gak terlalu suka diri gue yang seperti
ini. Ini sifat ENFP yang paling bikin gue gelisah. Kenapa? Gue suka nunda
deadline tugas. Ngerjain di detik terakhir. Lalu bagaimana dengan skripsi gue
yang tak punya deadline????? Seandainya deadline nikah itu ada.
Lalu apa
baiknya si ENFP itu?? Dimana sisi anugerah yang aku katakan tadi?
Anugerah
sebagai seorang ENFP adalah bisa terlahir dengan kemampuan menularkan antusias
yang dimiliki. Dia bisa menebarkan aura positif pada orang sekitarnya. Menularkan
antusias dan semangatnya yang tinggi pada orang lain disekitarnya. Dengan kemampuan
komunikasi verbal dan tertulis yang baik, ia bisa dengan mudah memberi motivasi
dan inspirasi pada sesamanya. Menyenangkan bukan???? dan semua itu hanya “katanya”
hahahahahaha... lalu bagaimana aslinya? Silahkan nilai sendiri saja langsung
pada orangnya. Tennag aja ENFP itu banyak kok. Mereka merajalela dimana-mana dan
beranak-pinak begitu cepatnya. Semoga saya juga.
