Senin, 27 Maret 2017

ENFP : Anugerah yang Terkadang Bikin Gelisah


Bikin gelisah? Mana ada anugerah yang bikin gelisah? Bukannya anugerah itu selalu indah? Well, anugerah emang selalu indah, gue aja yang gelisah.Oh, jomblo ternyata bisa gelisah juga ya?
Oke, sebelum kita bahasa mengapa ENFP itu anugerah yang bikin gelisah, gue jelasin dulu apa itu ENFP. Let’s check. Dan karena pengetahuan gue yang seuprit tentang apa itu ENFP, jadi nyari aja sendiri di eyang gugel, okey?? *di kepruk orang sekampung*
Baiklah, kalo gitu. Agar kalian bisa hemat kuota, gue jelasin dah seuprit yang gue tahu itu. Jadi ENFP adalah.......jeng jeng jeng......
ENFP adalah singkatan yang digunakan untuk menyebut salah satu dari 16 Jenis Kepribadian yang dikategorikan dalam Intrumen Tes Kepribadian MBTI (Myers-Birggs Type Indicator). Jadi tes MBTI ini sekarang lagi booming di negara-negara maju dan berkembang. MBTI menjadi salah satu tes yang digunakan negara-negara besar buat ngrekrut karyawan baru. Dan elo belum pernah tes MBTI? Mending lo tutup dulu page ini. Kemon deh cari di eyang gugel lagi tentang tes mbti. Download dan temukan apa kepribadianmu *maap,aku bukan lagi promosi*
Yup, ENFP adalah kepanjangan dari Extraversion, Intuition, Feeling, Perception).
Dengan definisi sebagai berikut :
  • E – Extraversion: Mereka biasanya merasa termotivasi melalui interaksi dengan orang lain. Mereka cenderung untuk menikmati jaringan perkenalan yang luas, dan mereka mendapatkan energi dalam situasi sosial.
  • N – Intuition: cenderung lebih abstrak. Mereka fokus pada gambaran besar daripada detail, dan kemungkinan masa depan daripada realitas yang ada.
  • F – Feeling: cenderung menghargai pertimbangan pribadi dalam mengambil keputusan. Umumnya mereka sering lebih mengutamakan implikasi sosial daripada logika.
  • P – Perception: Cenderung menahan pendapat dan menunda keputusan, lebih memilih untuk “menjaga pilihan mereka tetap terbuka” sehingga dapat berubah sesuai kondisi.
Dan kenapa saya membahas ENFP? Bukan INFP, INTJ, ESFP? Ya karena setelah saya ikut tes MBTI, tipe kepribadian saya adalah ENFP yeeeeaaaaayyyyy *muterin wc 100x*.
ENFP itu ekstrovert? Bagaimana dengan saya?
Ya, karena saya begitu memuja hasil tes ini saya setuju! Saya seorang yang suka dengan interaksi sosial. Saya senang mengenal orang-orang baru. Walau sekedar berkenalan dan berbincang di dalem  bis dengan orang asing beberapa jam, saya suka. Meskipun saya tidak selalu begitu. Orang yang duduk di sebelah saya di bis itu random banget. Kadang mbak-mbak cantiks nan alay, mas-mas ganteng, emak-rempong nan ramah, bahkan kakek-kakek yang baru semenit duduk langsung ngorok. Dari seluruh pengelompokan itu saya lebih suka ngobrol sama emak-emak sama mbah uti-uti yang ramah. Bukan mbak-mbak? Bukan mas-mas? Itung-itung bisa dijadiin gebetan. Emak-emak atau mbah uti-uti selalu enak di ajak ngobrol, ramah dan kita sering nyambung. Kalo sama embak-embak, kadang mereka sering cuek. Gue suka berada ditempat baru dimana gue bisa punya banyak temen. Meski di awal gue selalu merasa kurang nyaman, tapi selalu berakhir dengan obrolan yang gak henti. Dan lebih banyak gue yang ngomong. Mohon dimaklumi. Meskipun begitu, bukan berarti gue gak betah sendiri. buktinya gue betah-betah aja tuh jomblo bertahun-tahun. Bagi gue, ENFP itu spesial. Kenapa? Karena ENFP adalah satu-satunya ekstrovert yang masih butuh waktu untuk sendiri. Bahkan bagi gue, butuh banyak waktu untuk sendiri. Ada saatnya gue gak suka bising, gak suka rame dan bahkan gak suka ngobrol sama banyak orang. Hingga terkadang gue ragu? Benarkah aku Ekstrovert? Hingga akhirnya gue menyelami dalamnya laut diri gue sendiri dan gue kembali yakin bahwa gue ini ekstrovert. Salah satunya adalah gue gak terlalu nyaman dengan sesama ekstrovert. Bagi gue ekstrovert itu berisik. Bener-bener gue gak sadar diri. Ya, tapi begitulah kenyataannya. Gue lebih suka ngobrol dimana gue yang mendominasi cerita, bukannya mereka hahaha. Ketika gue denger ekstrovert yang ke-ekstrovert-annya *bahasa macam apa ini* stadium akhir, gue akhirnya yang diam. Apalagi kalo gue kumpul sama ekstrovert papan atas, gue udah kayak shaun the sheep di tengah ladang babi. Tahu sendiri kan berisiknya kek apa? Pengen cepet keluar dari area perbabian itu. Yah, ini;ah salah satu kegelisahan gue. Gue ini ekstrovert tapi kok ya masih susah ngadepin sesama spesiesnya.
ENFP itu intuisinya yang di gedhein, alias dia perasa. Benarkah?
Menurut MBTI, seorang ENFP itu memutuskan sesuatu berdasarkan perasaa, imajinasi dan pikirannya sendiri bukan berdasarkan fakta, logika atau apa yang ia lihat. Dan menurutku sendiri itu memang benar. Gak ada meleset-melesetnya dari aku hahaha. Aku ini orangnya perasa banget nget. Aku gampang merasa kasihan sama orang. Gampang dibuat menangis hanya karena video nenek tua yang tinggal sebatang kara. Gampang mewek pas liat video ada anak alay yang jahatin kakek-kakek. Mellow tingkat dewa aku ini. Kadang dalam hal interaksi sama orang lainpun perasaan ini selalu terbawa (?) Pas ada orang yang abis ngerjain sesuatu atau ngobrol bareng sama aku, terus ada yang gak bener dikit langsung dah aku merasa bersalah. Apalagi kalo orang tadi tiba-tiba pergi atau cuek sama aku, aku langsung yakin kalo orang tadi marah sama aku. Itu sering banget terjadi pas aku bertengkar ala anak alay sama pacar aku dulu *flashback sambil ngambil tisu*. Kalo aku merasa dia ada salah, aku langsung bilang. Nyerocos tapi lewat chat. Negtik ambek jemariku keriting seminggu. Dan ketika udah aku send, ku baca sampai kali keseribu. Aku merasa keterlaluan atas tingkah atau ucapanku. Aku merasa bersalah. Aku minta maaf. Sono maafin. Plis deh, tadi yang salah siapa yang minta maaf siapa??? Mengapa hatiku bisa selemah dan seperasa ini?? Kalo aku didiemin aku merasa gak disukai. Gak diajak ngobrol ngerasa dijauhi. Kalo tetiba di cuekin aku ngerasa diriku ini udah gak asik lagi *jangan nyanyi plis*. Susah deh pokoknya. Diriku ini meskipun ceria setiap waktunya tapi juga bisa mellow yang sedalem-dalemnya. Sukanya mikir jelek ya? Apa-apa yang gak terpikirkan sama kalian, kami bisa kepikiran. Masih mending kalo itu pikiran baik. Lha ini pikiran jelek mulu yang digedhein.. Iya begitulah diriku dan para enfp lainnya. Mohon di maklumi sekali lagi yaa...
ENFP itu perasa pakek banget.
Ya seperti yang udah aku tulis diatas. Kami itu merasakan sesuatu yang tak kalian rasakan *bukan gombal*. Terkadang ketika kalian mengatakan sesuatu, kami berpikir ada sesuatu dibalik sesuatu yang kalian katakan itu. Dibalik kalian melakukan ini ada sesuatu lagi. Bahkan aku bisa merasakan sesuatu dari caption atau status sosmed kalian. Yang padahal kalian tujukkan untuk orang lain, kami bisa merasakan bahwa itu nyindir kita *parah kan ya?*. satu hal yang merugikan mungkin. Menurut saya, perasa gak selalu dalam hal buruk. Contohnya saja dalam hal percintaan. Ketika ada yang deket dan suka ngechat kita, kita ngerasanya dia suka karena perhatian, dan kenyataanya dia menganggap kita hanya teman. Sakit gak sih? Eh ini tetep buruk ya? Maafkan. Intinya ENFP itu terkadang suka keGRan hahahaha...
ENFP itu random dalam hidupnya.
Kita para ENFP adalah orang yang gak suka di atur-atur. Apalagi peraturannya gak jelas. Pengalaman aja sih, gue ini pernah jadi mahasiswa terbandel seangkatan di jurusan gue gegara gak nurut apapun kata senior. Temen gue marah habis-habisan karena gue gak ngerjain tugas dari mereka yang menurut gue gak jelas. Hingga akhirnya temen seangkatan gue dapet ancaman dari senior. You know ancamannya? Kalo kita gabisa dapetin tanda tangan senior Hima itu dalam waktu seminggu, kita harus beli kambing buat kurban. Akhirnya gue luluh. Bukan takut ancamannya. Sama sekali bukan. tapi temen gue ketakutan sama ancaman itu sampek-sampek mau lari kesana sini buat minta ttd senior di buku gue. gue gak tega. Akhirnya buku gue ambil dan gue minta ttd sendiri. begitulah gue sebagai ENFP. Hidup gue juga gak teratur. Gue pengen sih punya jadwal kek temen gue. udah gue buat dan banyak gak gunanya *RIP jadwal para ENFP*. ENFP itu fleksibel sekalii. Suka nunda kerjaan dan tugas yang bahkan rutin. Gue gak terlalu suka diri gue yang seperti ini. Ini sifat ENFP yang paling bikin gue gelisah. Kenapa? Gue suka nunda deadline tugas. Ngerjain di detik terakhir. Lalu bagaimana dengan skripsi gue yang tak punya deadline????? Seandainya deadline nikah itu ada.
Lalu apa baiknya si ENFP itu?? Dimana sisi anugerah yang aku katakan tadi?
Anugerah sebagai seorang ENFP adalah bisa terlahir dengan kemampuan menularkan antusias yang dimiliki. Dia bisa menebarkan aura positif pada orang sekitarnya. Menularkan antusias dan semangatnya yang tinggi pada orang lain disekitarnya. Dengan kemampuan komunikasi verbal dan tertulis yang baik, ia bisa dengan mudah memberi motivasi dan inspirasi pada sesamanya. Menyenangkan bukan???? dan semua itu hanya “katanya” hahahahahaha... lalu bagaimana aslinya? Silahkan nilai sendiri saja langsung pada orangnya. Tennag aja ENFP itu banyak kok. Mereka merajalela dimana-mana dan beranak-pinak begitu cepatnya. Semoga saya juga.