Konnichiwa minna ^_^ ogenkidesuka? Eak... segitu aja
belajarnya. Paling mending emang pakek bahasa jawa tercinta atau bahasa
indonesia kita semua hehehe...
Kali ini aku
mau ceritain soal salah satu anggota keluarga cemara versiku wkwkwk. Tayangan
Keluarga Cemara di sekitaran akhir abad 20 dulu emang gak terganti ya. Meskipun
abad telah berbeda, tapi Keluarga Cemara seperti menjadi paporit dan panutan
banyak keluarga di Indonesia. Buktinya pas aku search di kolom pencarian
instagram dengan kata kunci “Keluarga Cemara” yang muncul bukan lagi tayangan atau
video tentang Keluarga Cemara “yang dulu” tapi telah bereinkarnasi menjadi
Keluarga Cemara “masa kini” dengan banyak versi.
Udah cukupin
deh ngomongin Keluarga Cemara-nya. Kali ini aku akan mengupas tuntas *baca
dengan nada sesuai versi infotaiment*tentang cuplikan kehidupan adek aku.
Kenapa bahas dia? Ya, karena pengen aja. Setiap kali melihat dia di masa ini, aku
juga seperti melihat diriku sendiri di masa yang sama. Indah, bahagia, tanpa
beban, belum punya malu *maafkan aku yang dulu*, ceria selalu dan yang pastinya
belum kenal yang namanya skripsi !
Masa apa itu?
Masa terindah untuk jatuh cinta. Masa terindah untuk melakukan hal malu-maluin
tanpa rasa malu. Masa yang ketika sekarang kau ingat, barulah sekarang malunya
minta ampun. Terus nyanyi pengen lumpuhin ingatan apalagi yang tentang
mantan
Kau tahu kan
anak seusia SMP? Banyak dibilang masa
itu masa emasnya anak ababil ya ‘kan? Alias “ABG Labil”? ya, kalian yang
udah tahu dan paham betul dengan istilah ini berarti kita seumuran wkwkwk.
Jadi, adekku ini sekarang lagi mengalami masa ke-ababil-annya yang benar-benar
ia nikmati. Seperti apa gambaran adekku ketika mengalami masa ababil itu? Yah,
wajar seperti ababil lain di seluruh tanah air. Dandan alay di anggap gaul.
Tampil norak disebut kekinian. Melanggar peraturan sebuah kebanggan. Mungkin
itu semboyan tertinggi bagi kaum ababil. Meskipun harus renang di sungai penuh
eek sekalipun akan mereka lakukan asal tetap eksis dengan ke-alay-an yang
mereka banggakan. Jadi detailnya seperti apa penampilan anak alay itu? Masa aku
harus jelasin? Oke, aku jelasin. Penampilannya seperti kalian waktu dulu
seumuran mereka juga ! Jelaskan? Apa? Kalian belum pernah mengalami masa alay
waktu seumuran itu? Sungguh malang kalian, melebihi malangnya ditinggal
mantan. Kenapa malang? Ya karena masa ababil itu sekali seumur hidup dan
kalo kita bisa ngadepinnya dengan baik, itu akan menjadi salah satu masa yang
gak terlupakan. Bahkan kalo udah gedhe terus flashback masa itu, pasti
senyum-senyum sendiri di buatnya. Percaya deh. Jadi aku mau jelasin gimana
cirinya alay itu, tapi karena aku bahas adekku yang lagi alay yaa ini fokusnya
ke adekku aja yah hehehe....
Tanda-tanda ABG
alay (versi adek aku) :
1.
Model rambut
Mereka
biasanya rambut potong tipis sebelah kiri kanan tapi bagian atas tuebel kek
sarang burung. layaknya orang potong rambut di salon tapi berhenti sebelum
finish karena kekurangan ongkos. Tapi mereka menyebut itu “gaul” kek adekku
beberapa waktu lalu.
Pas aku lihat model rambut
barunya, refleks aku teriak “ya ampun dek, rambutmu alay ngertioo.. iyuuhhh”
Dan dengan wajah bangga dia
menjawab “samean iku gak ngerti gaul mbak”. Diapun pergi meninggalkan aku yang
masih mengukur ketebalan rambut bagian atasnya dengan meteran.
Dan adekku ini masih cukup mending
dibanding anak alay yang rambutnya udah di cat sana sini. Rambutnya udah macam
kanvas dari kain blacu yang ada gambaran pelangi karya anak balita. Predikat ke-alay-an
mereka udah tak tertandingi yaitu “alay sekali” dengan nilai 9. Sungguh
istimewa.
2.
Akun sosmed.
Anak alay yang tak kasat mata bisa
dideteksi dari akun sosmednya. Maksudnya kita bisa saja tak pernah melihat dia
sebelumnya tapi bisa tahu dia alay atau enggak lewat akun sosmednya.
Khusus adek aku nama akun fesbuknya
udah predikat “cukup alay” dengan nilai raport ke-alay-an sebesar 7. Kalo dulu
sih nilainya 9 alias “alay sekali”. Setelah saya kasih tahu dan untungnya dia
mau dengerin jadi dia mau ganti nama akunnya. Kalo enggak, sungguh sebuah nama
yang malu-maluin. Gimana enggak? Nama yang sebenarnya hanya ada huruf “i”
disitu ditambah dengan “e” menjadi “ie”. Dan nama adekku yang ada huruf “i”nya
gak cuman satu tapi banyak. Terus huruf “s” diganti dengan “z” ditambah lagi
nama komunitas dimana huruf “j”nya ditambah dengan “d” “ menjadi “dj” layaknya
ejaan lama. Bisa dibayangkan kan betapa alaynya nama akun fesbuk adek aku?
Hmm.. begitulah..
Kalopun aku ingetin “nama akun
fesbukmu loh masih alay dek”
Jawabannya seperti lagu lama yang
di ulang-ulang “itu namanya gaul mbak” dan yah, ekspresiku saat itu pasti sama
persis dengan saat kamu baca ini sekarang :D
3.
Gak bisa bedain huruf dan angka, ejaan lama dan
ejaan baru
Seperti yang udah aku tulis di
poin sebelumnya, mereka menggunakan ejaan lama untuk menulis. Dan mereka bilang
itu gaul? Aku gagal paham. Sebab jaman aku alay aku masih bisa bedain mana
ejaan lama dan baru, gak nambahin huruf vokal yang tidak perlu. Aku masih berada
di jalan yang benar meski sebelah kakiku udah hampir tenggelam ke jurang
ke-alay-an. Meskipun saat itu aku juga masih sering mengganti huruf seperti “s”
menjadi “z” tapi aku gak separah adekku. Yang lebih parah lagi adalah ket!k4 m3r3k4
m3NuL!ez d3r3t4n k4l!m4t m3nGGun4k4n 4Ngk4 m3sk!pun 4ku y4k!n m3r3k4 p4h4m
bed4nya h03r03f d4n 4ngk4. D4n h4z!elny4 s3p3rTy ini, t4mp4k m!r!p d3r3t4n pL4t
n0m3r. Gak tahu harus bangga atau ngelus dada? Disatu sisi mereka bisa menulis
dan membaca angka dan huruf yang betrtebaran jadi satu seakan membaca sandi atau
kode. Dan itu adalah kode yang lebih rumit dari sandi rumput. Tapi juga malah
terlihat berlebihan dan yang pasti gak efisien bagi kita yang bacanya jadi
terbata-bata kek anak balita baru mau belajar baca. Seperti yang ku tulis
barusan. Dan sungguh pas nulis tulisan itu jariku merayap kesana-sini
kebingungan.
4.
Fashionnya ......ehm....
Yah, udah ketebak kan? Mereka para
alayers seering menganggap fashion atau dandanan norak merak sebagai sebuah
“kekinian”. Mereka memang salah gaul. Pengen gaul kekinian tapi salah jalan.
Bagaimana dengan adekku? Aku belum paham betul selera fashion anak alay. Tapi
soal adekku, sedikit banyak aku tahu. Contohnya? Sekolah pakek sepatu hitam
dengan 2 warna tali yang berbeda dipakai bersamaan. Masih mending warna talinya
hitam putih atau abu-abu. Lah adekku? Warna kuning stabilo di padukan dengan
warna oranye. Gimana? Udah gaul kece badai kan adekku? -_-
Begitulah sedikit cerita tentang masa
alay yang kini dilewati adekku. Apa perlu dia dilarang agar gak jadi anak alay
yang gak malu-mauin? Menurut saya sih enggak. Asal masih dalam batas normal,
dan nggak melanggar aturan agama. Saya cuman akan memberi beberapa saran,
mengarahkan agar alaynya gak kebablasan. Toh, kalo nanti masa ini sudah
dilewati, saya yakin dia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. suatu saat
dia akan menertawakan masa ini karena melihat tingkah lakunya. Pun akan
tersenyum karena masa ini menjadi salah satu masa yang membahagiakan dan penuh
pelajaran.
Gimana dengan aku? Alhamdulillah
pernah alay meskipun gak separah itu. Setidaknya aku pernah merasakan gimana
rasanya menjadi remaja ababil yang alay. Alay yang masih batas normal loh ya,
bukan alay yang kebablasan. Mungkin kalian akan bertanya “kok pernah alay malah
di syukuri sih Nda? Bukannya malu?”
Kenapa harus malu? Saya yakin semua
orang pasti akan melewati masa itu. Tinggal bagaimana setiap orang
menghadapinya itu berbeda-beda. Saya
bersyukur dengan masa itu, karena darinya saya jadi banyak tahu. Saya mengambil
banyak pelajaran dari masa itu. Saya gak bayangin gimana saya sekarang jika
masa remaja saya lempeng-lempeng aja. Saya yang dulu mungkin tidak sebahagia
itu jika saya menolak menjadi alay dan memilih menjadi remaja kaku. Dan
karena pernah alay saya jadi belajar gimana caranya biar punya malu
“Alay bukan penyakit
sejuta umat yang perlu di obati atau di basmi. Dia hanya salah satu fase metamorfosa seluruh manusia. Pengendali
efek sampingnya adalah virus bernama
“norma” yang harus disuntikkan terus-menerus.” -Me

Tidak ada komentar:
Posting Komentar