Minggu, 02 April 2017

Totto-chan : Laskar Pelangi-nya Jepang

Aaaaaaahh............... Petjaaaahhh benar-benar pecaaahhh...
Buku ini keren gilak... keren gak abis-abis. Buku yang membuat sejarah di dunia penerbitan di Jepang. Telah diterjemahkan ke berbagai macam bahasa. Menjadi rujukan siswa dan guru di sekolah. Judul lengkapnya adalah “Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela”
Buat kalian yang udah baca, sadar gak kalo buku ini mirip dengan salah satu buku di negara kita yang juga mengukir sejarah di dunia sastra Indonesia? Yup. Buku siapa lagi kalo bukan bukunya Andrea Hirata. Yang karena buku ini, Bangka Belitung –latar dari cerita buku-- menjadi terkenal di seluruh dunia.
Buku ini hampir mirip dengan buku pertamanya Andrea Hirata tersebut. maksudnya mirip disni bukan berarti jiplak atau plagiat loh ya. Tapi kisah yang ada didalam cerita ini yang mirip. wong buku ini ditulis jauh sebelum Laskar Pelangi lahiran kok :D
Lalu siapa penulis buku Totto-chan ini? Penasaran? Pasti.
Buku ini ditulis oleh seorang aktris internasional asal Jepang bernama Tetsuko Kuroyanagi. Buku ini ditulis olehnya pertama kali pada tahun 1982. Sungguh? Saya juga ternganga pas bacanya. Tapi begitulah kenyataannya. Fakta bahwa buku ini ditulis ketika ibu saya masih kanak-kanak dan saya masih menemukannya ketika usia saya sudah 20+ membuat saya bersyukur. Saya yakin, ini adalah kuasa Tuhan untuk mengenalkan saya dengan Kuroyanagi-san lewat bukunya yang hebat ini. Tuhan memperkenalkan saya pada salah satu sosok hebat melalui latar belakang masa lalunya yang sungguh menginspirasi. Semua melalui buku yang ditulis Tetsuko Kuroyanagi dengan penuh perasaan ini.
Menjadi buku best seller dengan tingkat penjualan mencapai 4.500.000 buku dalam setahun tentu menjadi indikasi bahwa buku ini bukan buku sembarangan. Lalu buku apa ini? hingga mencetak rekor segitu? Apa yang ditulis Kuroyanagi-san didalamnya?
Baiklah, karena saya telah mengkhatamkannya, saya akan cerita sedikit. Jadi “Totto-chan” ini bercerita tentang masa kanak-kanak Kuroyanagi-san sendiri. Didalam buku ini seluruh kisahnya adalah nyata. Tanpa ditambahi bumbu apapun termasuk ajinomoto atauppun masako. Kalo dikurangi sih banyak, karena beliau bilang banyak yang terlupa  tentang masa itu. Tapi seluruh rangkaian kenangan yang ia ceritakan dalam buku ini sudah cukup membangun imajinasi pembacanya. Apa yang ingin di ungkapkan Kuroyanagi-san untuk pembaca lewat buku ini sudah tersampaikan, saya yakin. Cerita dalam buku ini dimulai ketika Totto-chan alias Kuroyanagi-san dikeluarkan dari sekolahnya ketika masih kelas satu SD. Bukan karena perkelahian ala anak alay. Bukan karena melanggar norma. Semua hanya karena dia nakal. Ya, dia nakal sehingga harus dikeluarkan dari sekolah. Separah itukah? Sayangnya iya. Dia tidak pernah mendengarkan penjelasan guru, bermain sendiri ketika pelajaran berlangsung, berbicara dengan hewan di luar kelas melalui jendela ketika guru memberi pelajaran. Karena lelah menghukumnya dan tak pernah jera, gurunya menyerah. Gurunya tidak bertindak lebih lanjut asalkan Totto-chan tidak mengganggu temannya ditengah pembelajaran. Itu saja sudah cukup. Namun tingkah Totto-chan tidak berhenti disitu. Nyatanya ia melakukan sesuatu yang membuat gurunya harus mengambil tindakan tegas. Bagaimana tidak? Selama pembelajaran Totto-chan hanya memandang ke arah jendela. Ngapain coba? Orang dewasa pasti memarahinya kalo melihat ini. Dia memandang keluar jendela untuk menunggu para pemusik jalanan. Ketika pemusik jalanan itu benar-benar lewat, Totto-chan memanggilnya untuk mendekat dan menyuruh memainkan musiknya didekat jendela kelas. Karena ulahnya ini, anak-anak selekasnya yang keponya kebangetan pun mengikuti Totto-chan menikmati alunan musik dari musisi jalanan itu. Pembelajaran dikelas terhenti. Gurunya muntab. Orang tua Totto-chan dipanggil ke sekolah dan Totto-chan dikeluarkan. Namun ibu Totto-chan tidak menceritakan hal ini pada anaknya. Ia hanya berkata bahwa Totto-chan akan bersekolah di sekolah yang baru. Dan di awal musim semi, Ibu Totto-chan menggandeng anaknya dengan penuh kasih sayang hingga didepan sebuah sekolah dengan gerbang yang hidup dan berdaun, Tomoe Gakuen.
Intisari dari buku ini adalah kisah perjalanan masa kecil Totto-chan di Tomoe Gakuen ini, sekolah yang amat berbeda. Dilihat dari segala halnya sungguh berbeda dari sekolah lain. Mulai dari seragamnya yang bebas alias tak ditentukan, kemudian ruang kelasnya yang terdiri dari deretan gerbong kereta api, hingga jam istirahat yang lebih panjang dibanding sekolah lainnya. Tomoe Gakuen adalah sekolah non-konvensional di Jepang sehingga bebas menerapkan segala peraturannya. Satu lagi yang menjadi ciri khas Tomoe Gakuen adalah tidak ada jadwal pelajaran. Yang ada adalah guru menulis daftar soal di papan tulis dan berkata “Sekarang, mulailah dengan salah satu dari ini. Pilih yang kalian sukai”. Jadi setiap siswa mengerjakan tugas yang berbeda-beda. Yang suka mengarang langsung menulis sesuatu dibukunya, sedangkan siswa yang suka fisika sibuk merebus sesuatu di tabung reaksi diatas pembakar spiritus. Asal tahu saja, di ruang kelas alias gerbong kelas 1 SD itu sudah biasa terdengar suara letupan-letupan kecil sebagai reaksi dari percobaan yang dilakukan salah satu siswanya. Dan gue kenal tabung rekasi pas SMA, sungguh malu rasanya.
Bagaimana? Diteruskan sinopsisnya atau sampai sini saja? O iya. Pasti penasaran dengan seseorang dibalik berdirinya sekolah ini. Namanya adalah Sosaku Kobayashi. Di halaman awal buku inipun tertulis bahwa buku ini didedikasikan untuk mengenang beliau. Yap, beliaulah jantung dari Tomoe Gakuen ini. beliau yang membangun Tomoe Gakuen dari nol dengan uangnya sendiri. Dan “berbeda”nya sekolah ini juga karena kecintaannya pada anak-anak dan kepeduliannya pada pendidikan anak. Beliau membiarkan anak didiknya tumbuh sebagaimana mestinya. Mendukung seluruh siswanya tumbuh seperti apa yang mereka inginkan. Anak-anak tidak boleh dipaksa tumbuh sesuai pribadi yang sudah digambarkan.
“Serahkan mereka pada alam” begitu kata beliau. Sehingga tak heran jika di Tomoe Gakuen sering diadakan jalan-jalan –yang sebenarnya sebuah cara untuk menyampaikan suatu materi pelajaran. Mr. Sosaku Kobayashi tidak hanya mengajarkan apa itu sains, atau apa itu sastra. Tapi juga bagaimana anak itu sebaiknya bersikap terhadap sesamanya. Bagaimana saling membantu antar teman hingga titik puncak kemampuan mereka. Hingga bagaimana mengalah dengan ikhlas demi kepentingan orang lain. Ya di usia segitu. Dan itu berhasil, sungguh berhasil. Anda akan tahu sendiri keajaiban-keajaiban yang diciptakan Mr. Kobayashi ketika anda membaca bukunya. Segala sesuatu telah ia rencanakan demi kemajuan anak didiknya. Tapi anak-anak SD yang masih polos itu tak pernah mengetahuinya. Mereka baru memahami maksud gurunya itu berpuluh-uluh tahun kemudian.
O iya, jika latar novel Laskar Pelangi adalah masa jayanya penambangan Timah di Babel sekitar tahun 70-an, jika novel ini berlatar di Tokyo sekitar tahun 1940-an hingga tahun 1945. Yes, ketika pecahnya perang Asia Pasifik dimana ketika itu Hiroshima-Nagasaki luluh lantah oleh bom nuklir Amerika.
Bagaimana? Mirip dengan cerita di novel Andrea Hirata kan? Sama-sama menceritakan hebatnya masa lalu seseorang yang sukses di masa kini. Dan itu tak lepas dari peran guru sekolah dasarnya. Guru dengan dedikasi yang tinggi pada pendidikan. Guru yang amat mencintai murid-muridnya. Guru yang selalu ingin memberikan yang terbaik selama ia bisa. Itulah Ibu Mus (Laskar Pelangi) dan Mr. Kobayashi (Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela). Kedua figur ini begitu berarti dan istimewa di mata seluruh siswanya. Keduanya berhasil melahirkan orang-orang penting di masa kini. Sungguh sosok pendidik yang hebat dan  berdedikasi tinggi.
Akhir dari celotehan saya kali ini adalah : saya sangat anjurkan anda untuk membaca bukunya. Apalagi calon guru dan calon orang tua. Cara mendidik Mr. Kobayashi ini sangat patut untuk ditiru seluruh orang tua di segala penjuru dunia. Selamat membaca dan selamat menjadi inspirasi berikutnya!
“Jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi dari pada cita-cita kalian” Mr. Sosuke Kobayashi (1893-1963)

Jumat, 31 Maret 2017

Alay Penyakit Sejuta Umat?


Konnichiwa  minna ^_^ ogenkidesuka? Eak... segitu aja belajarnya. Paling mending emang pakek bahasa jawa tercinta atau bahasa indonesia kita semua hehehe...
Kali ini aku mau ceritain soal salah satu anggota keluarga cemara versiku wkwkwk. Tayangan Keluarga Cemara di sekitaran akhir abad 20 dulu emang gak terganti ya. Meskipun abad telah berbeda, tapi Keluarga Cemara seperti menjadi paporit dan panutan banyak keluarga di Indonesia. Buktinya pas aku search di kolom pencarian instagram dengan kata kunci “Keluarga Cemara” yang muncul bukan lagi tayangan atau video tentang Keluarga Cemara “yang dulu” tapi telah bereinkarnasi menjadi Keluarga Cemara “masa kini” dengan banyak versi.
Udah cukupin deh ngomongin Keluarga Cemara-nya. Kali ini aku akan mengupas tuntas *baca dengan nada sesuai versi infotaiment*tentang cuplikan kehidupan adek aku. Kenapa bahas dia? Ya, karena pengen aja. Setiap kali melihat dia di masa ini, aku juga seperti melihat diriku sendiri di masa yang sama. Indah, bahagia, tanpa beban, belum punya malu *maafkan aku yang dulu*, ceria selalu dan yang pastinya belum kenal yang namanya skripsi !
Masa apa itu? Masa terindah untuk jatuh cinta. Masa terindah untuk melakukan hal malu-maluin tanpa rasa malu. Masa yang ketika sekarang kau ingat, barulah sekarang malunya minta ampun. Terus nyanyi pengen lumpuhin ingatan apalagi yang tentang mantan
Kau tahu kan anak seusia SMP? Banyak dibilang masa  itu masa emasnya anak ababil ya ‘kan? Alias “ABG Labil”? ya, kalian yang udah tahu dan paham betul dengan istilah ini berarti kita seumuran wkwkwk. Jadi, adekku ini sekarang lagi mengalami masa ke-ababil-annya yang benar-benar ia nikmati. Seperti apa gambaran adekku ketika mengalami masa ababil itu? Yah, wajar seperti ababil lain di seluruh tanah air. Dandan alay di anggap gaul. Tampil norak disebut kekinian. Melanggar peraturan sebuah kebanggan. Mungkin itu semboyan tertinggi bagi kaum ababil. Meskipun harus renang di sungai penuh eek sekalipun akan mereka lakukan asal tetap eksis dengan ke-alay-an yang mereka banggakan. Jadi detailnya seperti apa penampilan anak alay itu? Masa aku harus jelasin? Oke, aku jelasin. Penampilannya seperti kalian waktu dulu seumuran mereka juga ! Jelaskan? Apa? Kalian belum pernah mengalami masa alay waktu seumuran itu? Sungguh malang kalian, melebihi malangnya ditinggal mantan. Kenapa malang? Ya karena masa ababil itu sekali seumur hidup dan kalo kita bisa ngadepinnya dengan baik, itu akan menjadi salah satu masa yang gak terlupakan. Bahkan kalo udah gedhe terus flashback masa itu, pasti senyum-senyum sendiri di buatnya. Percaya deh. Jadi aku mau jelasin gimana cirinya alay itu, tapi karena aku bahas adekku yang lagi alay yaa ini fokusnya ke adekku aja yah hehehe....
Tanda-tanda ABG alay (versi adek aku) :
1.    Model rambut
Mereka biasanya rambut potong tipis sebelah kiri kanan tapi bagian atas tuebel kek sarang burung. layaknya orang potong rambut di salon tapi berhenti sebelum finish karena kekurangan ongkos. Tapi mereka menyebut itu “gaul” kek adekku beberapa waktu lalu.
Pas aku lihat model rambut barunya, refleks aku teriak “ya ampun dek, rambutmu alay ngertioo.. iyuuhhh”
Dan dengan wajah bangga dia menjawab “samean iku gak ngerti gaul mbak”. Diapun pergi meninggalkan aku yang masih mengukur ketebalan rambut bagian atasnya dengan meteran.
Dan adekku ini masih cukup mending dibanding anak alay yang rambutnya udah di cat sana sini. Rambutnya udah macam kanvas dari kain blacu yang ada gambaran pelangi karya anak balita. Predikat ke-alay-an mereka udah tak tertandingi yaitu “alay sekali” dengan nilai 9. Sungguh istimewa.
2.       Akun sosmed.
Anak alay yang tak kasat mata bisa dideteksi dari akun sosmednya. Maksudnya kita bisa saja tak pernah melihat dia sebelumnya tapi bisa tahu dia alay atau enggak lewat akun sosmednya.
Khusus adek aku nama akun fesbuknya udah predikat “cukup alay” dengan nilai raport ke-alay-an sebesar 7. Kalo dulu sih nilainya 9 alias “alay sekali”. Setelah saya kasih tahu dan untungnya dia mau dengerin jadi dia mau ganti nama akunnya. Kalo enggak, sungguh sebuah nama yang malu-maluin. Gimana enggak? Nama yang sebenarnya hanya ada huruf “i” disitu ditambah dengan “e” menjadi “ie”. Dan nama adekku yang ada huruf “i”nya gak cuman satu tapi banyak. Terus huruf “s” diganti dengan “z” ditambah lagi nama komunitas dimana huruf “j”nya ditambah dengan “d” “ menjadi “dj” layaknya ejaan lama. Bisa dibayangkan kan betapa alaynya nama akun fesbuk adek aku? Hmm.. begitulah..
Kalopun aku ingetin “nama akun fesbukmu loh masih alay dek”
Jawabannya seperti lagu lama yang di ulang-ulang “itu namanya gaul mbak” dan yah, ekspresiku saat itu pasti sama persis dengan saat kamu baca ini sekarang :D
3.       Gak bisa bedain huruf dan angka, ejaan lama dan ejaan baru
Seperti yang udah aku tulis di poin sebelumnya, mereka menggunakan ejaan lama untuk menulis. Dan mereka bilang itu gaul? Aku gagal paham. Sebab jaman aku alay aku masih bisa bedain mana ejaan lama dan baru, gak nambahin huruf vokal yang tidak perlu. Aku masih berada di jalan yang benar meski sebelah kakiku udah hampir tenggelam ke jurang ke-alay-an. Meskipun saat itu aku juga masih sering mengganti huruf seperti “s” menjadi “z” tapi aku gak separah adekku. Yang lebih parah lagi adalah ket!k4 m3r3k4 m3NuL!ez d3r3t4n k4l!m4t m3nGGun4k4n 4Ngk4 m3sk!pun 4ku y4k!n m3r3k4 p4h4m bed4nya h03r03f d4n 4ngk4. D4n h4z!elny4 s3p3rTy ini, t4mp4k m!r!p d3r3t4n pL4t n0m3r. Gak tahu harus bangga atau ngelus dada? Disatu sisi mereka bisa menulis dan membaca angka dan huruf yang betrtebaran jadi satu seakan membaca sandi atau kode. Dan itu adalah kode yang lebih rumit dari sandi rumput. Tapi juga malah terlihat berlebihan dan yang pasti gak efisien bagi kita yang bacanya jadi terbata-bata kek anak balita baru mau belajar baca. Seperti yang ku tulis barusan. Dan sungguh pas nulis tulisan itu jariku merayap kesana-sini kebingungan.
4.       Fashionnya ......ehm....
Yah, udah ketebak kan? Mereka para alayers seering menganggap fashion atau dandanan norak merak sebagai sebuah “kekinian”. Mereka memang salah gaul. Pengen gaul kekinian tapi salah jalan. Bagaimana dengan adekku? Aku belum paham betul selera fashion anak alay. Tapi soal adekku, sedikit banyak aku tahu. Contohnya? Sekolah pakek sepatu hitam dengan 2 warna tali yang berbeda dipakai bersamaan. Masih mending warna talinya hitam putih atau abu-abu. Lah adekku? Warna kuning stabilo di padukan dengan warna oranye. Gimana? Udah gaul kece badai kan adekku? -_-
Begitulah sedikit cerita tentang masa alay yang kini dilewati adekku. Apa perlu dia dilarang agar gak jadi anak alay yang gak malu-mauin? Menurut saya sih enggak. Asal masih dalam batas normal, dan nggak melanggar aturan agama. Saya cuman akan memberi beberapa saran, mengarahkan agar alaynya gak kebablasan. Toh, kalo nanti masa ini sudah dilewati, saya yakin dia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. suatu saat dia akan menertawakan masa ini karena melihat tingkah lakunya. Pun akan tersenyum karena masa ini menjadi salah satu masa yang membahagiakan dan penuh pelajaran.
Gimana dengan aku? Alhamdulillah pernah alay meskipun gak separah itu. Setidaknya aku pernah merasakan gimana rasanya menjadi remaja ababil yang alay. Alay yang masih batas normal loh ya, bukan alay yang kebablasan. Mungkin kalian akan bertanya “kok pernah alay malah di syukuri sih Nda? Bukannya malu?”
Kenapa harus malu? Saya yakin semua orang pasti akan melewati masa itu. Tinggal bagaimana setiap orang menghadapinya itu berbeda-beda.  Saya bersyukur dengan masa itu, karena darinya saya jadi banyak tahu. Saya mengambil banyak pelajaran dari masa itu. Saya gak bayangin gimana saya sekarang jika masa remaja saya lempeng-lempeng aja. Saya yang dulu mungkin tidak sebahagia itu jika saya menolak menjadi alay dan memilih menjadi remaja kaku. Dan karena pernah alay saya jadi belajar gimana caranya biar punya malu

“Alay bukan penyakit sejuta umat yang perlu di obati atau di basmi. Dia hanya salah satu  fase metamorfosa seluruh manusia. Pengendali efek sampingnya adalah  virus bernama “norma” yang harus disuntikkan terus-menerus.” -Me



Senin, 27 Maret 2017

ENFP : Anugerah yang Terkadang Bikin Gelisah


Bikin gelisah? Mana ada anugerah yang bikin gelisah? Bukannya anugerah itu selalu indah? Well, anugerah emang selalu indah, gue aja yang gelisah.Oh, jomblo ternyata bisa gelisah juga ya?
Oke, sebelum kita bahasa mengapa ENFP itu anugerah yang bikin gelisah, gue jelasin dulu apa itu ENFP. Let’s check. Dan karena pengetahuan gue yang seuprit tentang apa itu ENFP, jadi nyari aja sendiri di eyang gugel, okey?? *di kepruk orang sekampung*
Baiklah, kalo gitu. Agar kalian bisa hemat kuota, gue jelasin dah seuprit yang gue tahu itu. Jadi ENFP adalah.......jeng jeng jeng......
ENFP adalah singkatan yang digunakan untuk menyebut salah satu dari 16 Jenis Kepribadian yang dikategorikan dalam Intrumen Tes Kepribadian MBTI (Myers-Birggs Type Indicator). Jadi tes MBTI ini sekarang lagi booming di negara-negara maju dan berkembang. MBTI menjadi salah satu tes yang digunakan negara-negara besar buat ngrekrut karyawan baru. Dan elo belum pernah tes MBTI? Mending lo tutup dulu page ini. Kemon deh cari di eyang gugel lagi tentang tes mbti. Download dan temukan apa kepribadianmu *maap,aku bukan lagi promosi*
Yup, ENFP adalah kepanjangan dari Extraversion, Intuition, Feeling, Perception).
Dengan definisi sebagai berikut :
  • E – Extraversion: Mereka biasanya merasa termotivasi melalui interaksi dengan orang lain. Mereka cenderung untuk menikmati jaringan perkenalan yang luas, dan mereka mendapatkan energi dalam situasi sosial.
  • N – Intuition: cenderung lebih abstrak. Mereka fokus pada gambaran besar daripada detail, dan kemungkinan masa depan daripada realitas yang ada.
  • F – Feeling: cenderung menghargai pertimbangan pribadi dalam mengambil keputusan. Umumnya mereka sering lebih mengutamakan implikasi sosial daripada logika.
  • P – Perception: Cenderung menahan pendapat dan menunda keputusan, lebih memilih untuk “menjaga pilihan mereka tetap terbuka” sehingga dapat berubah sesuai kondisi.
Dan kenapa saya membahas ENFP? Bukan INFP, INTJ, ESFP? Ya karena setelah saya ikut tes MBTI, tipe kepribadian saya adalah ENFP yeeeeaaaaayyyyy *muterin wc 100x*.
ENFP itu ekstrovert? Bagaimana dengan saya?
Ya, karena saya begitu memuja hasil tes ini saya setuju! Saya seorang yang suka dengan interaksi sosial. Saya senang mengenal orang-orang baru. Walau sekedar berkenalan dan berbincang di dalem  bis dengan orang asing beberapa jam, saya suka. Meskipun saya tidak selalu begitu. Orang yang duduk di sebelah saya di bis itu random banget. Kadang mbak-mbak cantiks nan alay, mas-mas ganteng, emak-rempong nan ramah, bahkan kakek-kakek yang baru semenit duduk langsung ngorok. Dari seluruh pengelompokan itu saya lebih suka ngobrol sama emak-emak sama mbah uti-uti yang ramah. Bukan mbak-mbak? Bukan mas-mas? Itung-itung bisa dijadiin gebetan. Emak-emak atau mbah uti-uti selalu enak di ajak ngobrol, ramah dan kita sering nyambung. Kalo sama embak-embak, kadang mereka sering cuek. Gue suka berada ditempat baru dimana gue bisa punya banyak temen. Meski di awal gue selalu merasa kurang nyaman, tapi selalu berakhir dengan obrolan yang gak henti. Dan lebih banyak gue yang ngomong. Mohon dimaklumi. Meskipun begitu, bukan berarti gue gak betah sendiri. buktinya gue betah-betah aja tuh jomblo bertahun-tahun. Bagi gue, ENFP itu spesial. Kenapa? Karena ENFP adalah satu-satunya ekstrovert yang masih butuh waktu untuk sendiri. Bahkan bagi gue, butuh banyak waktu untuk sendiri. Ada saatnya gue gak suka bising, gak suka rame dan bahkan gak suka ngobrol sama banyak orang. Hingga terkadang gue ragu? Benarkah aku Ekstrovert? Hingga akhirnya gue menyelami dalamnya laut diri gue sendiri dan gue kembali yakin bahwa gue ini ekstrovert. Salah satunya adalah gue gak terlalu nyaman dengan sesama ekstrovert. Bagi gue ekstrovert itu berisik. Bener-bener gue gak sadar diri. Ya, tapi begitulah kenyataannya. Gue lebih suka ngobrol dimana gue yang mendominasi cerita, bukannya mereka hahaha. Ketika gue denger ekstrovert yang ke-ekstrovert-annya *bahasa macam apa ini* stadium akhir, gue akhirnya yang diam. Apalagi kalo gue kumpul sama ekstrovert papan atas, gue udah kayak shaun the sheep di tengah ladang babi. Tahu sendiri kan berisiknya kek apa? Pengen cepet keluar dari area perbabian itu. Yah, ini;ah salah satu kegelisahan gue. Gue ini ekstrovert tapi kok ya masih susah ngadepin sesama spesiesnya.
ENFP itu intuisinya yang di gedhein, alias dia perasa. Benarkah?
Menurut MBTI, seorang ENFP itu memutuskan sesuatu berdasarkan perasaa, imajinasi dan pikirannya sendiri bukan berdasarkan fakta, logika atau apa yang ia lihat. Dan menurutku sendiri itu memang benar. Gak ada meleset-melesetnya dari aku hahaha. Aku ini orangnya perasa banget nget. Aku gampang merasa kasihan sama orang. Gampang dibuat menangis hanya karena video nenek tua yang tinggal sebatang kara. Gampang mewek pas liat video ada anak alay yang jahatin kakek-kakek. Mellow tingkat dewa aku ini. Kadang dalam hal interaksi sama orang lainpun perasaan ini selalu terbawa (?) Pas ada orang yang abis ngerjain sesuatu atau ngobrol bareng sama aku, terus ada yang gak bener dikit langsung dah aku merasa bersalah. Apalagi kalo orang tadi tiba-tiba pergi atau cuek sama aku, aku langsung yakin kalo orang tadi marah sama aku. Itu sering banget terjadi pas aku bertengkar ala anak alay sama pacar aku dulu *flashback sambil ngambil tisu*. Kalo aku merasa dia ada salah, aku langsung bilang. Nyerocos tapi lewat chat. Negtik ambek jemariku keriting seminggu. Dan ketika udah aku send, ku baca sampai kali keseribu. Aku merasa keterlaluan atas tingkah atau ucapanku. Aku merasa bersalah. Aku minta maaf. Sono maafin. Plis deh, tadi yang salah siapa yang minta maaf siapa??? Mengapa hatiku bisa selemah dan seperasa ini?? Kalo aku didiemin aku merasa gak disukai. Gak diajak ngobrol ngerasa dijauhi. Kalo tetiba di cuekin aku ngerasa diriku ini udah gak asik lagi *jangan nyanyi plis*. Susah deh pokoknya. Diriku ini meskipun ceria setiap waktunya tapi juga bisa mellow yang sedalem-dalemnya. Sukanya mikir jelek ya? Apa-apa yang gak terpikirkan sama kalian, kami bisa kepikiran. Masih mending kalo itu pikiran baik. Lha ini pikiran jelek mulu yang digedhein.. Iya begitulah diriku dan para enfp lainnya. Mohon di maklumi sekali lagi yaa...
ENFP itu perasa pakek banget.
Ya seperti yang udah aku tulis diatas. Kami itu merasakan sesuatu yang tak kalian rasakan *bukan gombal*. Terkadang ketika kalian mengatakan sesuatu, kami berpikir ada sesuatu dibalik sesuatu yang kalian katakan itu. Dibalik kalian melakukan ini ada sesuatu lagi. Bahkan aku bisa merasakan sesuatu dari caption atau status sosmed kalian. Yang padahal kalian tujukkan untuk orang lain, kami bisa merasakan bahwa itu nyindir kita *parah kan ya?*. satu hal yang merugikan mungkin. Menurut saya, perasa gak selalu dalam hal buruk. Contohnya saja dalam hal percintaan. Ketika ada yang deket dan suka ngechat kita, kita ngerasanya dia suka karena perhatian, dan kenyataanya dia menganggap kita hanya teman. Sakit gak sih? Eh ini tetep buruk ya? Maafkan. Intinya ENFP itu terkadang suka keGRan hahahaha...
ENFP itu random dalam hidupnya.
Kita para ENFP adalah orang yang gak suka di atur-atur. Apalagi peraturannya gak jelas. Pengalaman aja sih, gue ini pernah jadi mahasiswa terbandel seangkatan di jurusan gue gegara gak nurut apapun kata senior. Temen gue marah habis-habisan karena gue gak ngerjain tugas dari mereka yang menurut gue gak jelas. Hingga akhirnya temen seangkatan gue dapet ancaman dari senior. You know ancamannya? Kalo kita gabisa dapetin tanda tangan senior Hima itu dalam waktu seminggu, kita harus beli kambing buat kurban. Akhirnya gue luluh. Bukan takut ancamannya. Sama sekali bukan. tapi temen gue ketakutan sama ancaman itu sampek-sampek mau lari kesana sini buat minta ttd senior di buku gue. gue gak tega. Akhirnya buku gue ambil dan gue minta ttd sendiri. begitulah gue sebagai ENFP. Hidup gue juga gak teratur. Gue pengen sih punya jadwal kek temen gue. udah gue buat dan banyak gak gunanya *RIP jadwal para ENFP*. ENFP itu fleksibel sekalii. Suka nunda kerjaan dan tugas yang bahkan rutin. Gue gak terlalu suka diri gue yang seperti ini. Ini sifat ENFP yang paling bikin gue gelisah. Kenapa? Gue suka nunda deadline tugas. Ngerjain di detik terakhir. Lalu bagaimana dengan skripsi gue yang tak punya deadline????? Seandainya deadline nikah itu ada.
Lalu apa baiknya si ENFP itu?? Dimana sisi anugerah yang aku katakan tadi?
Anugerah sebagai seorang ENFP adalah bisa terlahir dengan kemampuan menularkan antusias yang dimiliki. Dia bisa menebarkan aura positif pada orang sekitarnya. Menularkan antusias dan semangatnya yang tinggi pada orang lain disekitarnya. Dengan kemampuan komunikasi verbal dan tertulis yang baik, ia bisa dengan mudah memberi motivasi dan inspirasi pada sesamanya. Menyenangkan bukan???? dan semua itu hanya “katanya” hahahahahaha... lalu bagaimana aslinya? Silahkan nilai sendiri saja langsung pada orangnya. Tennag aja ENFP itu banyak kok. Mereka merajalela dimana-mana dan beranak-pinak begitu cepatnya. Semoga saya juga.