Sabtu, 14 Juli 2018

Keluarga Cemara dan Sosok Abah yang Hilang di Zaman Milenial


Hai gais.. lama tak bersua di blog. Iya. Kenapa gue males nulis sih? Why? Kenapa gue gak konsisten banget hadeuh..
Dan you know? Gue nulis ini justru malah pas dikejar deadline sidang skripsi. Insya Allah awal minggu depan gue sidang skripsi. Dan gue malah nulis ini. Halah bodo amatlah. Tulisan dan pemikiran yang muncul ini mungkin suatu saat bakal gue lupain. Jadi mending sekarang gue tuangkan dalam tulisan aja. Sekalian biar otak refresh, gak mikir skripsi mulu.
Oke, ini malem minggu dan kamar kos gue full of kertas dan buku bahan sidang skripsi. Kepala gue juga dipenuhi dengan semua itu. Tapi ya yang namanya ENFP,  gak mungkin dia itu bisa fokus sama satu hal. Mesti pikirannya kemana-mana. Ya, begitupun dengan gue. meskipun tengah dikejar deadline skripsi, gue malah nulis ini wkwk. Jadi tadi tu gue di kamar mandi lagi bengong gitu, terus teringat sama sinetron 90an yang sangat hits pada jamannya dan terkenang di hati penggemarnya hingga sekarang. Apalagi kalo  bukan Keluarga Cemara. Karena gue kepikiran, yaudah gue buka beberapa episode awal, karena gue juga udah lupa banget sama sinetron ini. Maklum, jaman sinetron ini rilis, aku masih umur setahun. Pernah nonton tahun 2004an kao gak salah. Ya jadi pas habis nonton gue mewek. Iya, mewek. Melihat tiap sosoknya, mulai dari Abah yang bijaksana, Emak yang gak tegaan, Euis yang mandiri, Ara yang pinter dan Agil yang centil. Betapa indahnya hidup mereka pada masa itu. gue bener-bener nangis sampek keluar ingus juga. Duh, bukan kasian ya, tapi lebih ke kagum dan terharu sama kehidupan sederhana mereka. Mereka tuh kayak keluarga paket komplit. Abahnya yang begitu bijak dan bersahaja, abah panutan seluruh ayah di dunia, yang paling bikin nyentuh hati gue. Ara dengan kepolosannya yang suka bikin trenyuh di hati. Hidu mereka itu sederhana tapi sempurna. Yaiyalah namanya juga sinteron. Tapi sungguh aktingnya natural banget, kayak bukan sinetron. Kayak beneran, makanya udah kayak keluarga sempurna beneran.
Tapi dunia sekarang udah berbeda jauh dengan masa itu. Sosok yang idealis dan berprinsip kuat seperti Abah sudah sangat jarang dan bahkan mungkin sudah punah. Abah yang awalnya keluarga kaya, bangkrut dan akhirnya memilih jadi tukang becak dan beternak, hidup dengan sangat sederhana. Kadang kasihan juga sama anak-anaknya yang akhirnya harus menahan keinginannya karena orang tuanya gak punya uang. Tapi Abah selalu mampu menyampaikan nasehat yang dapat diterima anaknya sehingga anak-anaknya tumbuh jadi anak baik, jujur dan penurut. Lalu, adakah sosok Abah macam itu di jaman milenial ini?
Jika aku mengamati dunia dan manusia di sekitarku, aku akan mengatakan ada tapi sudah sangat jarang. Apalagi di perkotaan. Banyak orang tua sibuk dengan pekerjaan masing-maisng dan anak harus di asuh orang lain. Anak kehilangan sosok ayah, dan merindukan sosok ibu. Kadang aku juga berpikir, kita diciptakan dengan nafsu untuk bekerja itu agar kita bisa bertahan hidup. Tapi kao gini ceritanya, bukan lagi kerja untuk hidup tapi hidup untuk bekerja. Tapi sekali lagi itu opini saya. Opini dari orang yang hanya mengamati dan tidak menjalani.
Sejujurnya saya ingin sekali ada sosok Abah dalam kehidupan saya nanti. Karena sekarang alhamdulillah ayah saya adalah sosok Abah di dunia nyata, bukan di film. Kemarin, gue curhat soal skripsi dan yah ayah pasti kasih nasehat, memotivasi, memberi saran dan gue nangis karena merasa ini Abah di dunia nyata, Abah terbaik saya.
Lalu untuk lelaki masa kini: bekerjalah, lalukan yang terbaik, kejar mimpi-mimpimu, raih kesuksesanmu sedari muda. Hingga suatu saatnya kau akan menikah, kau memiliki anak, ku minta berikan waktu untuk anakmu. Gendong anakmu sebagaimana ayahmu dulu menggendong dan menimangmu. Ajaklahbermain pasir di pantai, ajak beternak atau ajak melakukan hobi-hobi yang kau senangi. Ajak anakmu bertualang melihat alam dan isinya. Ajari anakmu menjadi pria sejati sepertimu. Jadikan dia anak yang kuat dan pemberani sepertimu. Kau adalah ayahnya, kau adalah pahlawan pertama dan terbaik seumur hidupnya.
Pekerjaan memang penting, karena bagaimanapun kau hendak memenuhi seluruh kebutuhan istri dan anakmu. Tapi bukankah menjadi ayah adalah pekerjaan paling mulia dan menyenangkan di dunia?
Salam,